by

Food Estate, bakal geser komoditas pertanian yang ada?

-Ekonomi-170 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Presiden Joko Widodo mengunjungi provinsi Nusa Tenggara Timur awal pekan ini. Jokowi mendatangi Kabupaten Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, dan Sikka untuk mengawasi pelaksanaan proyek food estate Pemerintah Pusat dan peresmian Bendungan Napun Gete di Maumere. Pertanyaan besarnya adalah apakah proyek food estate Jokowi akan mendorong perubahan yang berarti bagi NTT yang miskin.

Pemerintah telah menyiapkan 5.000 hektar lahan di Sumba Tengah untuk proyek food estate masifnya. Tiga ribu hektar di antaranya akan digunakan untuk pertanian padi, dan 2.000 hektar untuk jagung. Itu tidak berakhir di situ. Pemerintah Pusat akan terus memperluas areal menjadi 10.000 hektar (5.600 untuk padi dan 4.400 untuk jagung).

Presiden Jokowi mengatakan kepada pers bahwa kemiskinan di Sumba Tengah menjadi alasan Pemerintah Pusat memutuskan untuk mengembangkan proyek food estate di Kabupaten tersebut. Tiga puluh empat persen penduduknya miskin. Kabupaten ini hanya memanen padi setahun sekali. Ia berharap proyek food estate bisa membantu Sumba Tengah memanen padi dua kali setahun dan jagung setahun sekali.

Memang, kemiskinan seolah menjadi kondisi permanen di NTT. Pada 2019, jumlah penduduk miskin kabupaten mencapai 21,9 persen, sedangkan rata-rata nasional 9,41 persen. Kemiskinan secara langsung mempengaruhi kondisi kesehatan warga Sumba Tengah. Anak-anak di bawah usia lima tahun menderita malnutrisi. Tingginya angka stunting pada anak, selain masalah kesehatan primer lainnya.

Kurangnya pasokan air juga menjadi masalah yang signifikan di NTT. Pemerintahan Jokowi telah membangun bendungan Raknamo dan Rotiklod, tetapi curah hujan rata-rata di provinsi itu tetap rendah. Sebagian besar lahan di NTT tidak sesuai dengan tanaman yang membutuhkan banyak air. Tanaman seperti jahe dan jagung bekerja lebih baik daripada padi. NTT juga memiliki karbohidrat lain seperti ubi kayu dan ubi jalar, tetapi beras yang tidak cocok tetap menjadi tanaman yang dominan.

Pikul, sebuah lembaga swadaya masyarakat nirlaba yang didirikan pada tahun 1998, melakukan penelitian tentang varietas pangan lokal di NTT. Ditemukan 36 varietas tanaman pangan tumbuh subur di Timor, Sabu, Lembata, dan Rote. Mereka adalah sereal, umbi-umbian, dan kacang-kacangan. Sorgum juga tumbuh subur di Flores Timur dan Lembata. Jadi orang bertanya-tanya apakah program food estate Jokowi akan mendorong pergeseran komoditas pertanian NTT? Sekarang tergantung kepemimpinan NTT di bawah Viktor Laiskodat dan Bupati NTT. (yosefardi.com)

Comment

News Feed