by

Merajut Romantisme di Puncak Kelimutu Sembari Menanti Detik-Detik Matahari Terbit

Ende (eNBe Indonesia) –  Nusa Tenggara Timur itu unik atau tidak sangat bergantung sudut pandang orang yang mengucapkan. Mungkin bagi anggota DPR RI asal Jambi, Bakri HM, mengatakan NTT tidak ada yang istimewa sah-sah saja. Mungkin ia menggunakan sudut pandang yang berbeda dan atau standar yang berbeda pula. Tapi kita tak perlu dibahas di sini – apalagi memperdebatkan. Yang pasti ucapannya memberikan benefit bagi NTT sendiri karena menimbulkan rasa penasaran orang tentang NTT.

Dari perspektif penulis, bila keunikan atau keisimewaan itu dinilai bahwa obyek atau sesuatu itu tidak ada duanya, maka hemat penulis NTT memiliki keunikan dan keistimewaan. Salah satu keunikan atau keistimewaan itu adalah danau triwarna Kelimutu. Satu-satunya danau tiada duanya di muka bumi ini hanya ada di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Lalu seperti apa keunikannya? Sudah banyak yang menulis tentang Kelimutu. Kita mudah mendapatkannya di berbagai sumber atau referensi, tapi penulis perlu garis bawahi lagi bahwa secara etimologis Kelimutu berasal dari kata keli yang berarti gunung dan mutu yang berarti mendidih. Dua kata ini dirangkaikan menjadi satu kata yang berarti “gunung mendidih” –  danau ini sendiri memang merupakan bekas letusan gunung Kelimutu.

Danau Kelimutu penuh dengan nuansa mitologis. Tentang mitologi Danau Kelimutu, anda dapat menggalinya dari sumber lain. Karena mitologi itu pula, danau ini  memiliki keterkaitan erat dengan kepercayaan masyarakat lokal.

Maka tak heran bila setiap tahun, masyarakat sekitar kawasan Kelimutu melaksanakan ritual adat “kasih makan” (pati ka) bagi arwah yang diyakini sebagai penghuni kawasan danau Kelimutu. Juga tentang ritual ini, anda dapat menelusuri di sumber lainnya. Kini, rangkaian ritual pati ka telah  telah dikemas menjadi salah satu rangkaian festival Kelimutu yang dikelola Pemerintah Kabupaten Ende sebagai ajang promosi pariwisata.

Danau ini memiliki tiga kawah. Dua kawah terletak bersebelahan, satu kawah terpisah jauh – dibatasi oleh puncak Kelimutu dimana menjadi menara pandang wisatawan.

Dua kawah yang berdekatan berwarna biru tosca (Tiwu Nuwa Muri Koo Fai) dan biru tua (Tiwu Ata Polo), sedangkan satu kawah berwarna kecoklatan (Tiwu Ata Mbupu). Warna danau Kelimutu berubah-berubah dalam batasan waktu yang tak pasti. Namun, masyarakat meyakini perubahan warna Danau Kelimutu memberikan tanda atau isyarat tertentu yang akan terjadi di negeri ini.

Letak danau ini pada ketinggian. Menuju ke sarana, anda harus melewati rute sejauh 18-20 kilometer dari jalan Trans Flores atau pertigaan Moni. Tak usah ragu karena jalan yang dilalui telah di-hot-mix.

Sepanjang perjalanan ke puncak Kelimutu, anda akan disuguhkan pemandangan yang spektakuler. Kawasan persawahan Waturoka yang tersusun rapih. Hamparan Moni di lembah sejauh mata memandang. Perkampungan-perkampungan yang menghuni lembah dan perbukitan.

Tak jarang pula, anda akan disambut kabut tebal sehingga anda harus ekstra hati-hati. Meskipun jalan ini sepi dan mulus, namun rintangan lainnya jalan penuh kelok dan jurang di kiri atau kanan.

Seperti halnya wilayah Indonesia pada umumnya, anda akan mudah menjumpai tumbuh-tumbuhan khas daerah tropis. Pepohonan langkah mudah ditemukan di sini. Begitupula satwa liar seperti monyet dan burung. Satu-satunya spesies burung khas kawasan ini adalah garugiwa – tak akan anda jumpai di daerah lain. Suaranya melengking. Hanya orang-orang yang beruntung saja akan mendengar atau melihatnya.

Tentu anda penasaran, khan? Satu-satunya danau berwarna menjadikan Kelimutu sebagai ‘sosok’ yang unik. Wisatawan selalu berdatangan ke sana. Puncaknya di musim panas atau musim liburan. Namun, tak berarti, di musim hujan, Kelimutu tak kedatangan tamu.

Di sini, tak soal sajian view kawah yang menakjubkan, desau dedaunan dan ranting pohon yang menggema, sensasi kabut membawa anda pada dunia lain, atau semilir angin pegunungan yang selaras dengan nada-nada alam, pula tentang pesona detik-detik sang fajar keluar dari peraduannya.

Tak banyak wisatawan yang melakukan hunting atau perburuhan matahari terbit (sun rise). Umumnya momentum alam ini diburu sebagian besar wisatawan asing. Untuk mendapatkan momentum ini melewati tantangan.

Di penghujung Oktober 2020, saya, Erna (istri saya), dan Anna (rekan kerja)  rela menginap Rago’s homestay di Moni. Lalu, pagi-pagi buta, sekitar jam 4 pagi, kami start dari penginapan menuju puncak Kelimutu. Bayangkan saja suasana pada jam-jam saat itu. Dingin sekali. Butuh sekali nyali. Naluri petualang benar-benar diuji. Melewati jalan sepi bak tak berpenghuni serta melewati kawasan hutan rimbun. Menyeramkan.

Setiba di pos penjagaan, anda disambut seorang petugas yang melayani penjualan tiket masuk. Dari pos jaga, kami harus berjalan ke area parkiran lebih kurang satu kilometer. Kami wajib memarkir kendaraan di sini dan berjalan sejauh 2 kilometer ke kawasan puncak Kelimutu. Bayangkan, dalam keadaan gelap gulita. Kami harus berjalan menembus track berbatu dan jalan tanpa polesan aspal.

Senter dari HP anda bisa berfungsi maksimal di sini. Langkah kami akan beraduh dengan langkah turis asing berburu menuju puncak. Napas saya ngos-ngosan. Tapi suasana alam yang dingin tidak sebabkan badan anda cepat gerah.

Hari itu, untuk pertama kali, kami berburu matahari terbit di puncak Kelimutu. Langkah kami kalah jauh dengan wisatwan asing yang melangkah enteng. Namun, tepat detik-detik matahari menampak sorot matanya di garis horison, kami tiba di puncak Kelimutu setelah menaiki ratusan anak tangga.

Sang fajar merangkak berlahan-lahan. Masing-masing kami mengabadikan momentum alamt tersebut. Beberapa wisatawan asing tak bergeming. Pandangan mereka menjurus  ke arah datang matahari. Pesona fajar pagi dari puncak Kelimutu memesona. Tiada duanya di dunia.

Semakin tinggi matahari beringsut, larik sinarnya menyentul permukaan danau. Menampakan keindahan alam yang tak dapat dilukiskan. Hanya bisa dirasakan.  Anda mau rasakan sensasi keindahan di puncak Kelimutu? Temukan dan rasakan romantika di sini! Yuk, datang ke Danau Kelimutu, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. NTT memang unik. ***

Tulisan ini pernah ditayang di Suara.com.

Comment

News Feed