by

KUI & FLOTISTA UI mengabdi 2 minggu di Nagekeo

-Profil-338 views

foto bersama Bupati & Ibu Bupati  Nagekeo serta Ketua Yayasan Sa’o Mere

DEPOK (eNBe Indonesia) – Komunitas Kita Untuk Indonesia (KUI), bekerja sama dengan Paguyuban Mahasiswa NTT (FLOTISTA UI) telah melakukan program kegiatan pengabdian masyarakat selama dua minggu (8-17 Pebruari 2021) di Desa Langedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam siaran pers hari ini, Panitia Ekspedisi Flores 2021 mengatakan bahwa fokus program pada Ekspedisi kedua di Nagekeo ini adalah pendidikan, pertanian, dan pariwisata. Sebelum ini, KUI telah melakukan program serupa, Ekspedisi Lombok.

Program utama yang dilaksanakan yaitu mengajak para pemuda dan warga setempat untuk memajukan ekonomi pasca pandemi dalam bidang pertanian dengan menerapkan teknologi bernama SISTEM PERTANIAN IRIGASI TETES AIR. Irigasi tetes air adalah sebuah metode pertanian yang bertujuan untuk menghemat air dengan pemasangan selang, katup, pipa dan emitor yang memungkinkan air untuk menetes perlahan melalui permukaan tanah atau langsung ke akar tanaman.

Teknologi ini adalah ide tim mahasiswa dan dosen pembimbing yang masuk ke dalam program riset dan pengembangan mahasiswa tahun 2020. Manfaat dari teknologi tersebut adalah mengurangi leaf burn pada tanaman, karena hanya bagian perakaran yang dibasahi, meningkatkan pertumbuhan tanaman sehingga kelembapan tanah terjaga, dan mengoptimalkan nilai guna air sehingga air yang dibutuhkan jauh lebih sedikit dengan 50% efisiensi.

Cara ini sendiri telah berhasil diterapkam di beberapa daerah kering di NTT seperti di kabupaten Sikka dan Timor Tengah Utara (TTU). Untuk menjalankan program utama, tim Ekspedisi Flores bekerja sama dengan komunitas lokal yaitu Yayasan Sa’o Mere yang juga bergerak di bidang pengembangan ekonomi masyarakat desa lewat Irigasi Tetes. Adapun kegiatan meliputi persiapan lahan, pemasangan alat irigasi tetes, pembibitan, dan penanaman cabai.

PENDIDIKAN

Selain program utama mengenai penerapan teknologi irigasi tetes air untuk pertanian, KUI juga membuat program pendukung lainnya agar dapat bersinergis dengan program utama. Adapun program tersebut meliputi bidang Pendidikan, Kesehatan serta Ekonomi Kreatif.

Program pendukung bidang Pendidikan dilakukan pada 2 sekolah dalam wilayah desa Langedhawe, yaitu Sekolah Dasar Inpres (SDI) Malawona dan SMPN 2 Aesesa Selatan dan kelompok karang taruna desa Langedhawe. Kegiatan di SDI Malawona meliputi senam bersama, bermain games kreatif, dan sosialisasi tentang pola hidup sehat dan langkah-langkah mencuci tangan lewat lagu sehingga mudah dipahami. Selain itu, tim Ekspedisi Flores juga bermain sambil berdiskusi dengan peserta didik SDI Malawona tentang kesan selama mengikuti Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).

Berbeda dengan SDI Malawona, kegiatan di SMPN 2 Aesesa Selatan lebih berfokus pada sharing pengalaman bersama peserta didik dan guru yang diakhiri dengan senam pagi bersama. Lalu, bersama kelompok karang taruna, tim Ekspedisi Flores, mengadakan sessi diskusi seputar masalah dan hambatan yang dialami dan bersama-sama mencari solusi untuk masalah tersebut.

KESEHATAN

Program pendukung bidang Kesehatan meliputi sosialisasi Covid-19 kepada ibu dan anak di desa Langedhawe. Kegiatan dilakukan dalam 2 hari yang bertepatan dengan jadwal posyandu desa. Hari pertama diadakan untuk ibu dan anak dari dusun 1-3, sedangkan hari ke-2 khusus untuk ibu dan anak dari dusun 4. Tim Kesehatan juga membuka sesi diskusi bersama ibu-ibu tentang pengalaman menghadapi Covid-19 di wilayah luar NTT.

EKONOMI KREATIF

Program selanjutnya adalah Ekonomi Kreatif. Tim Ekspedisi berkesempatan mengunjungi Sanggar Tenun Batu Kodok, Desa Langedhawe. Sanggar tenun ini menggunakan pewarna alami yang dibuat secara manual. Tim juga berkesempatan mempelajari filosofi, alat dan bahan, serta proses produksi tenun khas Nagekeo. Kemudian tim Ekspedisi juga mengunjungi batu kodok, yaitu sebuah batu raksasa mirip kodok yang dikelilingi hamparan sabana. Selain itu, tim Ekspedisi juga mengunjungi Kampung Adat Tutubadha, di desa Rendu Tutubadha dan beraudiensi dengan masyarakat adat tentang sejarah Kampung Adat Tutubadha.

Kegiatan Ekonomi kreatif ditutup dengan mengunjungi pulau Kinde, di wilayah Kecamatan Wolowae kabupaten Nagekeo bersama rombongan camat Wolowae, bapak Gery M. Koro, S.Ip. Output yang diharapkan dari kegiatan ekonomi kreatif adalah membantu promosi pariwisata kabupaten Nagekeo melalui video promosi pariwisata dan publikasi ke khalayak.

HAMBATAN

Tentunya saat melaksanakan kegiatan di dalamnya terdapat kendala serta hambatan. Hambatan-hambatan tersebut diantaranya adalah kurangnya akses transportasi dari dan menuju desa ke kota. Akses jalan dimana sebagian ruas jalan masih terbuat dari bebatuan, juga keadaan jalan yang terjal dan juga berliku sehingga saat hujan jalanan menjadi sulit untuk dilalui. Selain itu, tidak adanya akses sinyal baik itu 2G, 3G, maupun 4G.

Tentunya hal tersebut sangat menghambat proses penyebaran informasi. Adapun rekomendasi-rekomendasi yang diberikan terkait perbaikan akses transportasi untuk menunjang distribusi hasil tani, pengadaan akses sinyal guna mendukung penyebaran informasi yang lebih efektif dan efisien, serta perbaikan sarana prasarana pendidikan termasuk upaya peningkatan kualitas tenaga pendidik.

Comment

News Feed