by

Siapa saja dukung Moeldoko?

-Profil-501 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Partai Demokrat yang dipimpin Moeldoko, mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang kini menjabat Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP), telah menyerahkan susunan kepengurusannya sesuai hasil kongres luar biasa Partai (KLB) kepada Kementerian Hukum & Hak Asasi Manusia. Fraksi Moeldoko sedang mencari pengakuan resmi dan legalisasi dari Pemerintah. Fraksi lain yang dipimpin Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), putra tertua mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyerahkan barang bukti ke Kementerian Hukum dan HAM sebagai upaya untuk membuktikan KLB Moeldoko ilegal.

Ilal Ferhard, salah satu pendiri Partai Demokrat dan pendukung Moeldoko, mengatakan kepada pers bahwa Partai Demokrat yang dipimpin oleh Moeldoko telah menyerahkan dokumen, termasuk hasil KLB dan susunan pengurus Partai, kepada Kementerian Hukum & HAM, Selasa (9 Maret). Sehari kemudian, AHY dan rombongan berkunjung ke Kementerian Hukum & HAM untuk meminta Pemerintah tidak mengakui dan mengesahkan KLB dan Fraksi Moeldoko. AHY mengklaim KLB itu ilegal, dan dia membawa dokumen-dokumen itu untuk memperkuat dalilnya.

Ilal tidak mengungkap identitas mereka yang tergabung dalam jajaran pimpinan Partai Demokrat Moeldoko. Tapi jelas bahwa para pendiri dan politisi senior Partai Demokrat yang menggagas KLB adalah anggota Fraksi Moeldoko. Mereka adalah Marzuki Alie, Jhoni Allen Marbun, Darmizal, Tri Yulianto, Achmad Yahya, Yus Sudarso, Syofwatillah Mohzaib, Muhammad Nazaruddin, Max Sopacua, Hencky Luntungan, dan Ilal Ferhard. Setidaknya dua dari mereka memiliki posisi yang jelas dalam jajaran manajemen Partai Demokrat Moeldoko: Marzuki Alie sebagai ketua Dewan Pertimbangan dan Jhoni Allen Marbun sebagai sekretaris jenderal Partai. Nazaruddin, mantan bendahara Partai Demokrat yang terkenal kejam, juga dikabarkan bergabung dalam barisan tersebut.

Selain pendiri dan politisi senior Partai Demokrat tersebut, orang bertanya-tanya siapa lagi yang bergabung dengan fraksi Moeldoko. Ada yang berspekulasi bahwa Moeldoko mungkin akan membawa beberapa anak buahnya, yakni yang membantunya di Kantor Staf Kepresidenan (KSP) dan Ikatan Petani Indonesia (HKTI). Tapi sekali lagi, orang masih bertanya-tanya siapa di antara mereka yang ada di KSP dan HKTI yang bisa bergabung dengan Partai Demokrat Moeldoko.

Di KSP, Moeldoko dibantu oleh lima deputi, lima staf khusus, 13 penasihat, dan beberapa staf ahli. Kelima deputi tersebut adalah Febry Calvin Tetelepta, Abetnego Panca Putra Tarigan, Panustan S. Sulendrakusuma, Juri Ardiantoro, dan Jaleswari Pramodhawardhani. Sementara itu, di antara 13 penasihat itu adalah nama-nama penting seperti Kuntoro Mangkusubroto (mantan menteri energi), Purnomo Yusgiantoro (juga mantan menteri energi dan pernah menjadi ajudan terdekat SBY), Andi Widjajanto (mantan sekretaris kabinet), Manuel Kasiepo (mantan menteri bidang energi dan percepatan pembangunan wilayah timur Indonesia), dan pengusaha Sudhamek. Penasihat lainnya adalah akademisi dan profesional seperti Imam Prasodjo, Maria Suwardjono, Yando Zakaria, Kuskridho Ambardi, Rahmawati Husein, Edi Witjara, Edward Omar Sharif Hiariej, dan Jonathan Tahir (putra pengusaha Dato Tahir). Edward Omar Sharif Hiariej, bagaimanapun, tidak lagi di KSP sejak diangkat sebagai Wakil Menteri Hukum & Hak Asasi Manusia yang baru. Tahir, pemilik Mayapada Group, memang sudah dikenal dekat dengan Moeldoko sejak lama. Ketika Moeldoko menjabat sebagai komandan militer, Tahir menjadi penasihat khususnya. Apalagi politikus Golkar Ali Mochtar Ngabalin juga menjadi staf Moeldoko di KSP.

Patut dicatat bahwa Moeldoko adalah ketua HKTI. Moeldoko diangkat menjadi Ketua HKTI, menggantikan Oesman Sapta Odang (OSO) yang kini menjadi Ketua Umum Partai Hanura, pada 10 April 2017. HKTI Oesman merupakan musuh bebuyutan HKTI lainnya yang dipimpin Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra dan sekarang menteri pertahanan. Pada 12 Maret 2020, Moeldoko terpilih kembali menjadi ketua HKTI periode 2020-2025.

Ada banyak pensiunan jenderal dan tokoh penting dalam HKTI Moeldoko. Pensiunan jenderal tersebut adalah Letjen (Purn.) Yunus Yosfiah, Kombes Pol. Jenderal (purnawirawan) Gories Mere, Brigadir Polisi. Jenderal (Purn) Erry Tb Gultom, Mayjen (Purn.) Endang Sodik, Mayjen (Purn) Maliki, Inspektur Polisi Jenderal (Purn) Erwin TPL Tobing, Mayjen (Purn) Bambang Budi Waluyo, Brigjen. Jenderal (Purn) Mulyanto, Mayjen (Purn.) Winston Simanjuntak, Mayjen (Purn) Unggul K. Yudhoyono, Mayjen (Purn) Adi Soedaryanto, Mayjen (Purn) Zaedun, Mayjen (Purn) Zaedun, Mayjen. Jenderal (Purn.) Sudirman Kadir, Mayjen (Purn.) Erro Kusnara, Marsekal Udara Belakang / Marsda (Purn) Warsono, Inspektur Polisi. Jenderal (Purn.) Hengkie Kaluara, Brigjen. Jenderal (Purn) Ali Imron, Brigjen. Jenderal (purnawirawan) Edison Napitupulu, Brigjen. Jenderal (Purn) Bambang Sudono, dan Brigadir Polisi. Jenderal (purnawirawan) Roeslan Nicholas.

Di antara tokoh-tokoh penting dalam HKTI Moeldoko adalah Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, yang terjun dari Golkar ke Partai Nasdem Surya Paloh. Syahrul menjabat sebagai ketua dewan pengawas HKTI. Ada pula Siswono Yudo Husodo, Tanri Abeng, dan pendiri Partai Demokrat Achmad Mubarok di dewan pengawas. OSO masih menjadi bagian dari HKTI Moeldoko sebagai ketua dewan penasihatnya. Tapi karena OSO adalah Ketua Umum Partai Hanura, kita bisa menghilangkan kemungkinan OSO bergabung dengan Partai Demokrat Moeldoko. Tetapi Hanura terpecah menjadi dua faksi yang bertikai, dan banyak pemimpin Partai meninggalkan Partai karena mereka kecewa dengan OSO. Mantan pemimpin Hanura ini, yang pernah dipimpin oleh Wakil Marsekal Udara / Marsdya (purnawirawan) Daryatmo, mungkin bergabung dengan Moeldoko. Patut disebutkan bahwa Moeldoko sendiri pernah menjadi politisi Hanura sebelum mengundurkan diri dari Partai setelah ditunjuk untuk memimpin KSP.

Susunan pengurus Partai Demokrat adalah kesempatan Moeldoko untuk menunjukkan bahwa fraksinya lebih baik dari AHY dan menunjukkan potensi fraksinya dalam meningkatkan elektabilitas Partai menjelang tahun 2024. Ini adalah kesempatannya untuk menarik dukungan dari kader Partai dan basis pendukung. Jika ia gagal mengatur lineup yang menjanjikan, akan sulit bagi Moeldoko untuk mendapatkan dukungan. Pertama-tama, mari kita lihat siapa yang akan bergabung dengan Moeldoko setelah dia mengumumkan susunan resmi Partai. Mari kita lihat juga apakah Moeldoko bisa mendapatkan pengakuan Pemerintah atau tidak. (yosefardi.com)

Comment

News Feed