by

Optimalisasi Sektor Perikanan Dan Kelautan Nagekeo

-Opini-411 views

Oleh: Kanisius Kami*)

Berbicara tentang perikanan dan kelautan membangkitkan memori saya pada sosok almarhum ayah saya Andreas Kewe yang adalah seorang nelayan. Saya terkenang kembali bagaimana perjuangan seorang nelayan kecil lulusan kelas 3 SD membesarkan dan membiayai pendidikan anak-anaknya dari ikan di laut selatan Nangaroro.

Tanpa modal atau bantuan pemerintah seperti sekarang ini, bapak Andreas merajut sendiri pukatnya dari benang nilon yang dibelinya di Ende. Ia membuat pemberat dari tima hitam dari acu bekas dengan cara menggorengnya pakai minyak kelapa pada wajan baja. Ia membuat mold sederhana dari papan dengan bulatan-bulatan kecil untuk menghasilkan pemberat yang diinginkan.

Bermodalkan jaring kecil atau lebih tepat pukat tangan, bapak Andreas setiap hari menyusuri pantai Nangaroro untuk menangkap ikan tanpa kenal lelah. Ketika ayah melaut di sore hari kami ikut untuk membawa keranjang ikan untuk mengisi hasil tangkapan.

Dari perjuangan seorang nelayan kecil tak berpendidikan ini, bapak Andreas dapat menyekolahkan kami anak-anaknya hingga selesai SMA. Tapi, satu hal yang mengherankan saya, mengapa Bapak Andreas tidak pernah mengijinkan kami anak-anaknya untuk memancing ikan atau menjadi nelayan seperti dirinya. Apa alasannya? Cuma dia yang tahu. Sayangnya hingga akhir hidupnya saya tidak sempat menanyakan alasan itu. Mungkin beliau berpikir bahwa menjadi nelayan cukup dirinya yang tidak berpendidikan.

Potensi Perikanan Dan Kelautan

Secara geografis, Kabupaten Nagekeo diapiti oleh laut Sawu dan laut Flores. Dari sisi karakter, laut Sawu terlihat lebih ganas pada musim-musim tertentu dan laut Flores cenderung lebih tenang.

Kekayaan hayati di laut Sawu dan laut Flores sangat luar biasa. Menurut catatan Potensi Perikanan dan Kelautan Provinsi NTT yang kami kutip dari nttprov.go.id sumber daya laut NTT sangat potensial untuk perikanan tangkap dan budidaya dengan arah pengembangan masing-masing yaitu: (i) Kawasan peruntukkan perikanan tangkap, perikanan budidaya dan pengolahan ikan tesebar diseluruh Kabupaten/Kota, (ii) pengembangan kawasan minapolitan untuk perikanan tangkap dan perikanan budidaya di Kabupaten Sumba Timur, Sikka, Lembata, Rote Ndao, Alor, Kota Kupang, dan (iii) pengembangan komuditas garam rakyat di Kabupaten Nagekeo, Ende, Kupang Tengah Utara (TTU), Kupang, lembata, dan Alor.

Potensi Perikanan Tangkap, terdiri dari: Potensi Lestari (MSY) 388,7 Ton/Tahun; jumlah ikan ekonomis: (1) Ikan pelagis (tuna, cakalang, tenggiri, laying, selar, kembung); (2) Ikan demersal (kerapu, ekor kuning, kakap, bambangan, dll); (3) Komoditi lainnya: (lobster, cumi-cumi, kerang darah, dll).

Potensi Perikanan Budidaya, terdiri dari budidaya laut seluas 5.870 ha (rumput laut, mutiara, kerapu) dengan potensi produksi mencapai 51.500 ton/tahun; budidaya air payau seluas 35,455 ha (udang dan bandeng) dengan potensi produksi mencapai 36.000 ton/tahun; budidaya air tawar yang meliputi kolam air tawar seluas 8,375 ha dengan potensi produksi mencapai 1,297 ton/tahun dan mina padi seluas 85 Ha degan potensi produksi mencapai 85 ton/tahun.

Potensi Budidaya Rumput laut, kabupaten yang budidaya rumput lautnya telah berkembang yaitu: Kabupaten Kupang, Sabu Raijua, Rote Ndao, Alor, Lembata, Flores Timur, Sikka, Sumba Timur dan Kabupaten Manggarai Barat. Komunitas rumput laut unggulan yang dibudidaya adalah Echeuma CoTonii, Eucheuma Sp, dan alga merah (red algae). Luas lahan potensial untuk budidaya rumput laut di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 250.000 ton kering/tahun.

Potensi Sumber Daya Garam sangat potensial. Upaya peningkatan produksi garam nasional yang ditargetkan sampai tahun 2014 untuk mencapai swasembada garam di Indonesia pada umumnya dan Provinsi NTT  pada khususnya mencapai 1,2 juta ton, maka telah dicanangkan pelaksanaan Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR). Dengan program ini, akan diberdayakan 119 Kelompok Usaha Garam Rakyat (KUGAR) dengan jumlah anggota 939 petambak garam. Pemerintah Provinsi NTT, melalui pelaksanaan PUGAR menargetkan peningkatan produktivitas lahan garam dari 60 ton/ha.

Optimalisasi Sektor Perikanan dan Kelautan

Dengan latar belakang potensi perikanan dan kelautan NTT diatas mari kita menukik langsung ke Nagekeo. Sudahkah sektor ini dikembangkan secara optimal oleh Pemda Nagekeo?

Secara kasat mata dapat kita katakan bahwa opitimalisasi sektor perikanan dan kelatuan Nagekeo masih jauh dari harapan. Bahkan bisa dikatakan tidak bergerak sama sekali. Nagekeo saat ini hanya mengandalkan Potensi Perikanan Tangkap. Sementara Potensi Perikanan Budidaya, Potensi Budidaya Rumput Laut, Potensi Sumber Daya Garam sama sekali tidak digerakkan.

Dari peta permasalahan diatas seyogyanya Pemda Nagekeo dalam hal ini Dinas Perikanan dan Kelautan dapat mengambil beberapa langkah sebagai berikut.

PERTAMA, mendorong peningkatan atau optimalisasi Perikanan Tangkap dengan beberapa program atau cara antara lain:

1. Membuka tiga (3) sentra penangkapan ikan yakni di Nangadhero – Mbay (di Utara – Laut Flores), di Nangaroro dan di Mauponggo atau Maukeli (di Selatan – Laut Sawu).

2. Menyediakan peralatan tangkap ikan dengan system terpadu. Menyediakan motor ikan dan jaring (pukat) atau alat pancing secara memadai bagi para nelayan kecil. Beri prioritas kepada para nelayan yang memang berprofesi sebagai nelayan, bukan nelayan paruh waktu. Buatlah pengadaan morot ikan dan jaring atau alat pancing, jangan diberikan dalam bentuk dana tunai. Kalau dana tunai bisa menguap begitu saja.

3. Bangun 3 buah gedung di tiga lokasi tadi yang dilengkapi dengan masing-masing 2 atau 3 cool storage besar untuk penampungan atau pendinginan ikan di tempat. Dan sediakan 10 atau 20 buah cool storage kecil untuk dibawah oleh para pedagang ikan ke pasar-pasar atau ke kampung-kampung di seluruh Nagekeo atau ke daerah lain yang membutuhkan.

4. Dorong atau ajak investor lakal atau dari luar Flores untuk bangun perusahaan pembuatan es balok untuk mendukung pendinginan ikan di tiga tepmat ini atau dareah lain.

KEDUA, mendorong Perikanan Budidaya dan Budidaya Rumput Laut dengan cara:

1. Buatlah pemetaan dan suvei untuk mendapatkan lokasi yang tepat pembudidayaan ikan air laut, rumput laut atau ikan air tawar jika memungkinkan. Untuk program ini rasanya lebih cocok hanya di pantai utara. Menurut informasi dari salah satu pedagang ikan asal Nagekeo yang sering mengirim ikan ke Bali dan Jakarta pakai pesawat, di pantai utara Nagekeo sangat kaya dengan ikan kerapu.

2. Jika sudah mendapatkan lokasi yang tepat, siapkan sarana-saran yang diperlukan berupa keramba untuk pembudidayaan ikan kerapu, lobster dan rumput laut serta ikan air tawar untuk udang dan bandeng.

3. Berdayakan masyarakat setempat untuk menjadi nelayan atau petani ikan air tawar dengan terlebih dahulu memberikan pelatihan bagi mereka. Datangkan trainer dari daerah lain atau kirim beberpa orang untuk mengikuti pelatihan pembudidayaan ikan air laut, rumput laut dan ikan air tawar di darah lain.

4. Untuk penampungan hasil panen bisa menggunakan cool storage yang sama yang telah dibangun tentu dengan kapasitas cool storage yang lebih besar.

KETIGA, mendorong Potensi Sumber Daya Garam melalui peningkatkan pelaksanaan Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR) dengan beberapa strategi sebagai berikut:

1. Lakukan sosialisasi program PUGAR kepada masyarakat di daerah-daerah dengan potensi padang garam.

2. Bentuklah Kelompok Usaha Garam Rakyat (KUGAR) di daerah-daerah tersebut.

3. Lakukan kerjasama lintas sektoral dengan dinas-dinas terkait seperti dinas PU, Tata Kota, dan dinas lainnya untuk membuka ladang-ladang garam baru.

4. Buatlah perencanaan pembangunan BUMD Garam Nagekeo dan konsolidasi dengan DPR mengenai rencana ini untuk membangun pabrik pengolahan garam yodium. Dengan kehadiran BUMD yang memproduksi garam maka garam dari padang-padang garam oleh KUGAR dapat dijual ke pabrik BUMD Nagekeo ini sebelum dijadikan produk garam olahan bermerek. KalAU boleh garamnya diberi merek GARAM YODIUM ‘NAGEKEO’. Jika ini bisa terlaksana dengan baik masih relevankah PT Cheetham Garam Indonesia untuk hadir di Nagekeo?

KEMPAT, mendorong Potensi Budidaya Mutiara. Karena perlu pemeliharaan yang ekstra khusus saya tidak ingin membahasnya lebih jauh, meski saya tahu ini bisa menjadi salah satu potensi yang bisa dikembangkan di Nangekeo.

Menurut salah satu petani mutiara asal Australia yang sempat mengunjungi daerah pesisir selatan Nagekeo di daerah Nangaroro ke arah Maunori sangat cocok untuk budidaya mutiara. Menurut beliau tinggal dilakukan pengukuran kecepatan arus air lautnya saja. Untuk program ini saya kira tidak ada cara lain untuk mendatangkan investor yang berminat untuk membudidayakan mutiara di daerah kita karena mereka memiliki modal dan sumber daya (source) yang cukup.

Menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Membangun sektor Perikanan dan Kelautan tanpa dukungan pendanaan adalah hal yang mustahil terjadi. Karena itu perlu, menggandeng perbankan, koperasi dan bila perlu mengundang OJK masuk Nagekeo. Hal ini penting untuk memberikan bantuan modal bagi para Nelayan untuk meningkatkan usahanya.

Pemda Nagekeo hanya berperan sebagai fasilitator untuk menghubungkan para nelayan atau KUGAR dengan lemaga permodalan semisal bank, koperasi atau OJK. Dengan demikian jika terjadi tunggakan nelayan langsung berurusan dengan lembaga-lembaga itu. Atau jika mereka ingin meningkatkan permodalannya mereka bisa lansung berhubungan dengan lembaga dimaksud.

Itulah beberapa pokok pikiran sederhana untuk mengoptimalisasi sektor perikanan dan kelautan di Nagekeo tercinta. Sebagai catatan terakhir, salah satu pabrik penepungan ikan di Larantuka milik teman saya masih kekurangan stok ikan untuk pabriknya. Menurut informasi, kapasitas produksinya bisa mencapai 40 ton per hari tapi yang baru terpenuhi baru 10 ton.

Salam Hangat Untuk Nagekeo Lebih Baik!

*) Penulis adalah mantan wartawan di Jakarta dan pengusaha di Jawa Barat

Comment

News Feed