by

Alsemat gelar Webinar bersama Dubes Indonesia untuk Swiss

-Ekonomi-288 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Alumni Seminari Mataloko (Alsemat) hari ini menggelar diskusi webinar bersama Duta Besar Indonesia untuk Negara Swiss dan Lichtensten, Prof Muliaman Hadad PhD. Diskusi berlangsung selama 2,5 jam dengan fokus pembahasan pada hubungan G to G, B to B, juga person to person antara Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan pemerintahan Swiss, Lichtensten, Eropa.

Turut hadir dalam webinar, Wakil Gubernur NTT Yosep Nai Soi, mantan Dubes Indonesia untuk Chile Aloysius Lele Madja, Romo Steff Wolo (berkarya di Swiss) sekaligus mediator Alsemat dan Kedubes RI di Swiss, berikut toko NTT di Jakarta seperti Primus Dorimulu, Marselinus Ado Wawo, Frans Padak Demon, Thobias Djaji, Iryanto Djou, Yustinus Solakira, dan Vitalis Ranggawea. Webinar ini diikuti sekitar 80 anggota Alsemat, dipandu moderator populer Emanuel Migo. Sementara ibu Ruth Joan Lumbanraja, staf Kedubes RI di Swiss, memfasilitas zoom meeting untuk webinar Alsemat ini.

Ketua Alsemat Emamanuel Umbu Billy sangat mengapresiasi Dubes Muliaman yang bersedia memaparkan materi terkait tema yang diusung yakni ‘Menangkap Peluang Kerjasama Strategis Pengembangan Ekonomi Kreatif Lintas Negara’.

Pada 7 Maret 2021, Swiss telah melaksanakan referendum saling menguntungkan (win-win) antara Indonesia dan Swiss. Sekitar 51.6% warga Swiss menyatakan dukungan kerjasama ini baik yang berkaitan dengan perdagangan barang dan jasa, tukar menukar tenaga profesional dan capacity building lainnya.

“Besar harapan kami melalui pemaparan bapak Dubes, kami bisa menimba serta mengerti alur kerjasamanya sehingga akan lebih memudahkan kami dalam menentukan langkah strategis apa yang bisa kami lalukan. Semuanya ini tentu bertujuan agar kita rakyat Indonesia khususnya kami orang NTT ini dapat diberdayakan dalam rangka menuju pada tingkat kesejahteraan yang lebih baik. Semoga webinar ini memberikan banyak manfaat terutama dalam membangun kerjasama lintas Negara yang sinergis,” ujar Emmanuel dalam pemaparannya.

Dubes Muliaman menandaskan bahwa Swiss adalah negara nomor satu untuk pendidikan vokasi karena hampir 99% industri adalah UMKM, dengan koperasi berperan sangat penting dalam meningkatkan skala (scaling-up) kapasitas jasa dan perdagangan. “Meski hanya berpendudukan sekitar 8 juta, Swiss adalah negara dengan income tertinggi di dunia (US$100,000 per kapita), juga nomor satu untuk Global Inovation Index, negara paling berinovasi.”

Muliaman menambahkan, Swisscontact, dengan dukungan dana SECO, mengadakan pelatihan di Indonesia untuk peningkatan kapasitas. Program untuk pengembangan sekolah vokasi beserta pelatihan lainnya fokus pada ketrampilan yang siap dipakai untuk bekerja, bagian dari program Skills for Competitiveness (S4C).

Swiss juga bekerja sama dengan pemerintah lokal untuk membuka sekolah khusus pariwisata dan pengembangan jaringan industri perhotelan, bagian dari program Sustainable Tourism Education Development Project (STED). Selain itu, Swiss menjalankan program Indonesia-Switzerland Intellectual Property (ISIP), melalui insiatif membantu produk lokal agar dikenali dan mendapat pengakuan dari pasar internasional (contoh: Tenun Ikat Sikka dari Maumere).

Dubes Muliaman memberi saran dan strategi, terutama program pelatihan (bahasa, design, packaging) serta berbagai kursus ketrampilan untuk meningkatkan kapasitas, melakukan pendataan dan penjangkauan terhadap pelaku ekonomi kreatif (ekraf) di kawasan NTT, memanfaatkan platform digital untuk melakukan transaksi jual beli serta membangun laman portal sebagai etalase digital, dan memasarkan barang dengan bantuan beberapa perusahaan Indonesia yang sudah berdiri di Swiss.

Sementara tantangan produk ekraf lokal untuk menembus pasar Swiss, menurut Dubes Muliaman, antara lain kualitas produk yang belum memenuhi standar yang ditetapkan Swiss (belum sustainable), ekraf lokal belum melek teknologi, kurangnya tenaga terampil, terhambatnya akses masuk ke pasar internasional.

Wakil Gubernur Yosep Nai Soi ingin Swiss mengembangan pendidikan vokasi di NTT, termasuk program magang bagi putra putri NTT di Swiss. Mantan Dubes Chile Aloysius Lele Madja meminta Dubes Muliaman agar juga memfasilitasi kemitraan NTT dengan negara-negara Eropa lainnya (tetangga Swiss).

Dubes Muliaman menandaskan pihaknya membuka diri jika Alsemat, UMKM NTT, pemerintah NTT ingin mewujudkan aksi-aksi nyata meningkatkan ekspor ke Swiss, terutama komoditi unggulan, produk dari kayu, makanan laut (sea food dan rumput laut), rempah-rempah (spicy) seperti cabe, jahe, vanila.

Comment

News Feed