by

KONFLIK TANAH: Peristiwa berdarah terjadi di Wolowae, Nagekeo (bagian 1)

DEPOK (eNBe Indonesia) – Peristiwa berdarah kembali terjadi di kebun Nakecawa, Dusun Kobakua, Desa Tendatoto, Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo pada hari Selasa, 2 Desember 2020 pukul 9.00 WITA. Tragedi berdarah ini menelan 3 korban dari pihak korban yang berjumlah 3 orang dan 1 korban dari pihak pelaku yang berjumlah 9 orang.

Peristiwa ini bermula ketika Marselinus Sega (68), Elias Minggu (62), Santos Mona Apa (30), dan Adi Ratu (26) pergi ke kebun Nakecawa untuk melakukan ritual adat sebelum tanam yang dinamakan Po’o Kose (masak nasi bambu) sekitar pukul 8.30 wita.

Setiba disana, setelah mengantar bahan ritual tadi, Adi Ratu pulang kembali ke rumah. Setelah itu, Marsel dan Elias menyiapkan ritual adat yakni mengisi beras dalam bambu, sedangkan Santos mengambil kayu untuk persiapan bakar bambu.

Tak lama berselang, datanglah ke tempat itu 9 pelaku yakni Mateus Baba/Us (34), Ferdi Dera/Ferdin (39), Damianus Daki/Dami (41), Agustinus Turi (40), Silvester Sere/Vester (28), Silverter Tata (31), Yuventus Matu/Yuven (36), Krisantus Raja/Krisan (25), dan Fanto Tegu/Fat (30). Us langsung mencegat Marsel dan Elias. “Kamu tahu atau tidak bahwa tempat ini bukan tempat kamu?” Selanjutnya Elias menjawab, “kalau kamu mau kerja silahkan kerja jangan menyentuh barang-barang kami”.

Lalu Ferdin dan Us mendekati Santos. Us mengambil parang milik Santos yang taruh di tanah. Sedangkan Ferdin mengambil kayu kudung lalu memukul Santos dengan sekuat tenaga. Santos menangkisnya dengan tangan. Lalu Marsel dan Elias berusaha membela Santos tapi dihadang oleh kelompok pelaku yang lain. Ferdin membacok Santos menggunakan sebilah pedang menegenai leher korban. Korban yang sudah berdarah berusaha merampas pedang dari pelaku dan berhasil melumpuhkan pelaku dengan cara memeluk dan membanting korban ke tanah. Karena jengkel dengan pelaku yang masih berusaha menghabisi nyawa korban maka korban membacok kepala pelaku sebanyak 3 kali.

Setelah itu korban lari menuju hutan meninggalkan tempat itu. Saat melihat Marsel dan Elias berusaha melindung anak mereka Santos. Turi, Us, dan Fat menyerang Elias dengan parang dan kayu kudung sehingga menyebabkan kakinya patah dan remuk, kepala dan pundak dibacok dengan parang. Pengroyokkan tersebut membuat Elias tergeletak bersimbah darah tak berdaya di tanah.

Di pihak lain, Vester menghadang Marsel yang berusaha membela Santos. Namun, ada salah satu pihak dari barisan pelaku melempar Marsel dengan batu di punggung dari belakang. Akibatnya, Marsel tersungkur ke arah depan tepat di depan Vester. Vester merangkul dan memukul Marsel dengan kepalan tangan. Namun, Marsel membalas pukulan sambil berusaha bebas dari rangkulan Vester.

Tiba-tiba Ferdi datang dari arah depan, berusaha melempar Marsel dengan batu tapi Marsel berhasil menghindar. Tidak puas dengan itu, Ferdin mengambil kayu kudung lalu memukul Elias yang tergeletak tak berdaya. Sesudah itu kesembilan pelaku pulang dan melapor kejadian tersebut kepada polisi polsek Wolowae.

Polisi bergerak cepat ke lokasi kejadian lalu mengantar korban ke puskesmas untuk perawatan dan pengambilan visum. Tapi pada saat korban Elias sedang dalam kawalan polisi di depan puskesmas Marilewa, pelaku Klemensius Mai masih memukul korban.

Duduk Persoalan

Lahan yang sedang dikerjakan oleh Elias ini sudah diselesaikan di tingkat pemerintahan Desa pada Senin, 26 Juli 2020. Pelapor adalah Yakobus Suma, sedangkan terlapor dalah Elias Minggu. Keputusan yang diambil dari perkara yang digelar di tingkat desa tersebut yakni lahan sengketa dibagi dua kepada terlapor dan pelapor. Keputusan dari Lembaga Pemangku Adat (LPA) dan pemerintah Desa ini tidak diterima oleh terlapor. Sebaliknya pelapor menerima keputusan.

Menurut terlapor, keputusan LPA dan pemerintah Desa tidak berdasar pada bukti- bukti. Sebab salah satu saksi dari pihak Yakobus Suma mengatakan lahan tersebut tidak pernah dikerjakan oleh Yakobus Suma dan ayahnya. Sebaliknya Saksi pelapor membenarkan bahwa tanah yang disengketakan pernah dikerjakan oleh ayah terlapor Elias Minggu.

Di pihak lain, Elias mengatakan bahwa tempat itu adalah pemberian dari pemilik hak ulayat Toto Wolowae kepada nenek moyangnya. “Tanah ini adalah tanah leluhur kami. Pemberian dari pemegang hak ulayat Suku Dodo kepada nenek moyang kami,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya, saat sidang digelar, terlapor meminta kepada LPA dan pemerintah Desa untuk menghadirkan pemegang hak ulayat, tapi permintaannya tidak ditanggapi. “Perkara tanah ini dibelokkan oleh pemerintah dan LPA sebagai masalah lahan garap padahal jelas-jelas ini masalah tanah,” tegasnya.

Kontroversi ini membuat Elias dan anak-anaknya tetap beraktivitas di lahan tersebut lalu menyusul Yakobus Suma dan anak-anaknya.
Sebelumnya itu, di lokasi yang sama Nakecawa, tapi di tempat berbeda, Yakobus Suma melaporkan Elias minggu. Lahan yang ini sudah dikerjakkan Elias selama 2 tahun. Elias sudah menanam tanaman umur panjang di tempat itu seperti: jambu mete, pisang, dan kayu jati. Namun Yakobus melapor Elias di pemerintah Desa.

Perkara pertama tidak jadi digelar di tingkat desa karena pihak Elias tidak hadir. Alasannya, tuntutan mereka untuk menghadirkan pemegang hak ulayat pada saat perkara tidak diindahkan oleh LPA dan pemerintah Desa.

Atas desakan pelapor, perkara ini dilimpahkan ke tingkat kecamatan. Perkara jadi digelar di tingkat kecamatan tapi perkara di level ini tetap tanpa menghadirkan pemegang hak ulayat suku dodo. Hasil keputusan perkara yakni lahan tersebut dibagi dua kepada pelapor Yakobus Suma dan terlapor Elias Minggu. Keputusan perkara pertama ini diterima oleh kedua belah pihak.

Proses Hukum

Tanggal 1 Desember 2020, pelaku melapor ke polisi Aesesa. Sedangkan tanggal 3 Desember 2020 korban juga melapor pelaku ke polisi dengan alasan penganiayaan. Setelah itu pada tanggal 13 Maret 2021 korban atas nama Marselinus sega ditangkap oleh polisi dengan Surat Perintah Penangkapan SP. Kap/02/III2021/Reskrim dan Robertus Susantos Mona Apa dengan Surat Perintah Penangkapan SP. Han/01/2021/Reskrim. Sedangkan dari pihak pelaku 5 orang ditangkap yakni Us Baba, Ferdin Dera, Agustinus Turi, Sivester Sere, dan Fanto Tegu.

Lalu pada tanggal 14 Maret 2021, semua oknum yang ditangkap oleh polisi ditetapkan sebagai tersangka baik dari pihak korban maupun dari pihak pelaku. “Masih 4 orang pelaku penganiayaan di Nakecawa yang belum ditangkap oleh polisi, satu pelaku di penganiayaan di puskesmas dan yang terakhir dalang daripada penganiayaan tersebut” kata Valerianus Tabe.

Menurut Valerius, anak dari Marsel, dalang dari penganiayaan ini harus ditangkap sebab ia adalah otak dari kasus ini”. “Masalah ini bermula dari persoalan tanah antara Yakobus Suma dengan Elias Minggu. Jadi jelas dalangnya kita sudah tahu,” tandasnya.

Selain itu menurut Sebastianus Se’i, SH., anak dari Marsel, penangkapan dan penetapan Marsel sebagai tersangka tidak tepat karena ayahnya adalah korban penyerangan daripada pelaku. Dan niat ayahnya ke tempat itu yakni untuk melakukan ritual adat. “Seseorang ditangkap dan dijadikan tersangka harus punya bukti permulaan yang cukup baik secara subjektif maupun obyektif,” ungkap nggota PMKRI Kupang ini.

Bagi Bastian, ayahnya bekerja disitu karena memang ayah saya punya lahan disitu dan itu tidak pernah dipersoalkan apalagi diperkarakan oleh Yakobus Suma. “Sedangkan aktivitas seremonial adat saat itu yang dilakukan ayah saya itu karena memang lokasi ayah saya dan bapak Elias itu satu kesatuan tempat. Jadi sebelum tanam harus dibuat upacara po’o kose di tempat itu,” jelasnya.

Lebih lanjut Bastian mengatakan bahwa pasal yang disangkakan kepada ayahnya dan Santos yakni pasal 351 ayat 1 dan 2 dan ayat 55 KUHP sangat tidak masuk akal. Upaya melindungi diri, keluarga, dan barang diatur dlm pasal 49 KUHP. Walaupun demikian Bastian tetap menghargai keputusan polisi saat ini. “Yakobus suma dan 5 orang yang masih bebas berkeliaran itu harus ditangkap karena mereka adalah pelaku dan otak dari penganiayaan tersebut,” tegasnya. Sebab dari proses ini, menurutnya, penegak hukum, dalam hal ini polisi ada upaya melindungi mereka.

Comment

News Feed