by

Listrik menyala, Dusun Puta-Tonggurambang amati ketertinggalan dengan terang benderang

Laporan Paula Nuna Herin

MBAY (eNBe Indonesia) – Setelah penantian lebih dari 23 tahun sejak terbentuknya dusun Puta, warga dusun ini yang berjumlah lebih dari 400 orang akhirnya menikmati listrik PLN. Warga dusun Puta mengapresiasi PLN Nagekeo, PLN Bajawa, dan pemerintahan Nagekeo karena telah memenuhi harapan warga akan kebutuhan penerangan listrik PLN. Beberapa tahun terakhir PLN hanya memfasilitasi lampu seng bertenaga surya.

Wakil Bupati Nagekeo, Marianus Waja, mengatakan tugas pemerintah sudah tuntas sejak membangun tiang listrik, gardu, dan kabel jaringan terpasang pada semua rumah warga di dusun Puta.

“Hanya memang terlambat menyala karena PLN menunggu registrasi pelanggan. Sebagian warga ( 6 rumah) menggunakan kontraktor lokal (CV Bunga Tonda) untuk memasang meteran, sedangkan sebagian besar (48 rumah) menggunakan kontraktor yang membangun tiang, gardu dan jaringan kabel itu (PT Ride),” ujar Marianus kepada Redaksi eNBe Indonesia belum lama ini.

John Nay Rebong, Kepala PLN Rayon Nagekeo, mengatakan pihaknya mempercepat pemasangan listrik di dusun Puta, bagian dari program percepatan proyek pemerintah selama masa pandemi covid-19.

Sementara Firmawan Jayusman, Supervisor Manager PLN Bajawa, mengatakan pihaknya menerima registrasi 48 pelanggan dari Desa Tonggurambang, Mbay pada 22 Maret 2021, dan memasukkan daya di meteran warga pada 1-2 April 2021, 10 hari sejak tanggal registrasi, lebih lama dari ketentuan maksimal 5 hari.

“Kami harus memprioritas pelanggan yang lebih dulu registrasi, maka pelanggan dari Tonggurambang masuk daftar tunggu,” ujar Firmawan kepada Redaksi eNBe Indonesia belum lama ini.

Masuknya listrik PLN di dusun Puta akan meningkatkan proses belajar siswa siswi di wilayah tersebut, dididik dengan sistem teknologi, meningkatkan prestasi belajar yang tertinggal selama ini.

Untuk diketahui dusun Puta adalah sentral lembaga pendidikan di desa Tonggurambang, Mbay, meliputi TK Harapan, SD Inpres Tonggurambang, dan SMPN Seatap Tonggurambang.

Alamsyah Puasaba

Sementara itu Alamsyah Puasaba, pemerhati energi asal Nagekeo yang tinggal di Jakarta, mengatakan pemerintah Nagekeo harus mengantisipasi krisis energi, termasuk listrik, di masa datang dengan mendiversifikasi sumber energi.

“Bahan bakar diesel itu sangat mahal, biayanya akan cenderung naik. Karena itu pemda Nagekeo harus mulai berpikir untuk mencari sumber energi lain, termasuk sumber energi terbarukan,” katanya.

Alamsyah menambahkan Nagekeo memiliki potensi sumber energi lain seperti PLTP (pembangkit listrik tenaga panasbumi/geothermal) karena punya gunung berapi (Ebulobo), tenaga surya dalam skala besar, tenaga angin, dan air terjun (PLTA).

Comment

News Feed