by

Humas jadi jurnalis, tapi jurnalis tidak efektif jadi humas

-Opini-275 views

(Refleksi Kearifan Lokal di Nagekeo)

Oleh Primery Natalia de Bao Aso, SI. Kom*)

Budaya hadir di dalam setiap aspek kehidupan manusia termasuk juga proses komunikasi dalam kehidupan. ‘Budaya dan komunikasi tidak dapat dipisahkan karena budaya tidak hanya menentukan siapa bicara siapa, tentang apa, dan bagaimana komunikasi berlangsung, tetapi budaya juga turut menentukan orang yang menyandi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan dan kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperlihatkan, dan menafsirkan pesan.’ (Sihabudin, 2011, h. 20‬).

Namun, Junaidi (2006, h. 24) memaparkan bahwa tidak jarang terjadi kesalahpahaman dalam proses memahami pesan yang disampaikan dalam proses komunikasi itu sendiri. Kesalahan penafsiran pesan oleh komunikan itu sendiri disebabkan oleh persepsi individu yang berbeda-beda dan memiliki pengaruh yang besar dari masing-masing nilai budaya yang dipegang karena setiap manusia hidup dalam suatu lingkungan sosial budaya tertentu dan dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial budaya itu sendiri (Lagu, 2016, h. 2).

Dua pendapat ahli di atas menunjukkan betapa besar dan pentingnya pengaruh budaya dalam proses komunikasi. Wood (2013, h. 138) juga mengatakan bahwa pola komunikasi sendiri memang merefleksi nilai dan perspektif budaya sehingga komunikasi mencerminkan dan menopang nilai-nilai budaya itu sendiri.

Karim (2015, h. 322) mengatakan bahwa komunikasi dan budaya memang memiliki keterkaitan (reciprocal relationship) yang erat antara satu dengan yang lain karena salah satu fungsi yang penting dalam komunikasi sendiri adalah transmisi budaya.

Dalam konteks komunikasi sebagai alat utama untuk menghubungkan antara organisasi dan publiknya, setiap praktisi humas yang melakukan kegiatan komunikasi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya. Sebaliknya, hal penting bagi praktisi humas untuk melihat nilai budaya dalam kegiatan komunikasinya.

Penting bagi praktisi humas untuk memiliki pengetahuan dan pemahaman akan budaya sehingga mampu membawa keuntungan bagi organisasi khususnya di era globalisasi seperti sekarang. Ingat, masyarakat Asia memiliki beragam budaya termasuk juga dengan kearifan lokalnya dan memiliki karakteristik yang berbeda dengan masyarakat Barat sehingga penerapan praktisi humas di Asia tentu akan berbeda dengan negara-negara Barat (Kriyantono 2014, h. 351).

Beberapa studi memparkan bahwa Amerika memiliki kesulitan dalam mengangkat posisi humas di tingkat manajerial karena penerapan budayanya berbeda dengan di negara lain. Mayoritas praktisi humas di Amerika berasal dari latarbelakang jurnalis sehingga aktivitas yang sering mereka definisikan sebagai humas lebih kepada manajemen gambar, impresi, persuasi dan penyebaran informasi sehingga humas dikenal dalam fungsi penafsiran ulang suatu informasi daripada sumber informasi yang benar-benar kredibel dan bisa diandalkan (Albu, 2013, h. 856).

Apresiasi

Sebagai peneliti, untuk kebutuhan penulisan skripsi, saya mengapresiasi kegiatan komunikasi yang dilakukan bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan dalam keterkaitannya dengan budaya (kearifan lokal) yang ada di Nagekeo. Dalam paradigma konstruktivis, saya melihat realitas konstruksi sosial yang ada di dalam masing-masing pikiran praktisi humas di bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Pemerintahan Daerah Nagekeo.

Setidaknya, ada empat penerapan nilai kearifan lokal yang diterapkan bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Pemerintahan Daerah Nagekeo, yakni;

  1. Penerapan nilai ‘kolo sa toko tali satebu’ (peka dan peduli dengan keadaan sosial)
  2. Penerapan nilai ‘kita ine sa susu mite, ame sa lalu to’ (kita ibarat saudara seayah dan seibu, kita makan dari priuk yang sama dan minum dari cawan yang sama)
  3. Penerapan nilai ‘yeta tolo pedhe nika tuga sa podo, zale teda inu tua tuga sa hea’ (budaya gotong royong dan kerja sama)
  4. Penerapan nilai ‘papa be’o ne’e ulu eko, papa pawe ne’e da padhi lange’ (bergaul dan bersosialisasi dengan orang-orang di sekitar, tetangga, dan saling bersikap baik dan saling berbagi dan memberi dalam melakukan komunikasi dengan masyarakat dan membangun pemahaman bersama).

Penerapan kearifan lokal di Nagekeo oleh bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Pemerintahan Daerah sebaiknya dikembangkan juga dalam aktivitas humas di kabupaten yang lain di Flores dan NTT khususnya sehingga bisa mengembangkan teori public relations dengan menggali kearifan lokal yang ada di Indonesia. Organisasi lain, non pemerintah, badan publik dan swasta penting juga menerapkan kearifan lokal dalam aktivitas humas.

Menurut saya, budaya tidak hanya mewakili aturan dan juga tradisi dari masyarakat tetapi juga dalam interaksi sosial yang dilakukan khususnya dalam praktik humas itu sendiri. Flores dan NTT masih sangat kental dengan kebudayaan, maka kearifan lokal menjadi gagasan yang bersifat bijaksana dan mengandung nilai-nilai kebaikan dari masyarakat lokal masing-masing wilayah yang termasuk dalam budaya itu sendiri.

Narasumber:

Marianus Waja (Wakil Bupati Kabupaten Nagekeo)
Andrez Dhenameda (Chairman DMO Flores)
Gaspar Taka (Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemda Nagekeo)
Silvester Teda Sada (Kepala Bagian Komunikasi Pimpinan dan Protokol Pemda Nagekeo)
Maria Ixta (Kasubag Dokumentasi Pimpinan/Nagekeo)
Slamet Manto (Staf Domumentasi Pimpinan)
Kresensiana Kewa (Kasubag Protokol)
Maria P. Toma (Kasubag Komunikasi Pimpinan)
Bergitha To Azi (Staf Protokol)
Adrianus Harimanto (Staf Protokol)
Bernadus Sape (Wartawan Victory News)
Petrus Dua (Wartawan Flores Pos)

*) Penulis adalah alumnus FISIP Univ. Brawijaya Malang 

Comment

News Feed