by

Revitalisasi Desa sebagai Elemen Penting Pemulihan Ekonomi Nasional yang Berkelanjutan

-Ekonomi-73 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Spedagi Movement, Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Bhumibhagya bersama dengan mitra gotong royong lainnya, menyelenggarakan diskusiinteraktif “Harmoni dari Desa Lestari: Nostalgia Kala Nanti” secara daring pada tanggal 21-22April 2021 yang difasilitasi oleh SMESCO Indonesia.

Diskusi interaktif ini bertujuan untukmembangun kolaborasi multipihak yang kuat mulai dari pemerintah, swasta, serta masyarakatuntuk mengembangkan sebuah tatanan kehidupan desa yang maju, sejahtera, lestari dan mandiri, serta mampu menjadi penggerak ekonomi sebagai elemen penting pemulihan ekonomi nasional.

“Koperasi dan UMKM sebagai bagian dari masyarakat di desa menjadi tonggak penting bagi pergerakan ekonomi, termasuk dalam perspektif nasional. Saya berharap diskusi interaktif ini dapat menjadi wadah untuk langkah nyata kolaborasi UMKM dengan pendekatan baru yakni lingkungan yang terjaga dan masyarakat yang sejahtera. Kami mendukung penuh kerja kolaborasi agar hasil diskusi ini dapat langsung diimplementasikan,” jelas Teten Masduki, Menteri Koperasi & UKM.

Saat ini pemerintah telah meluncurkan berbagai macam stimulus untuk mendukung UMKM di berbagai daerah dalam rangka pemulihan ekonomi nasional. Saat ini sudah ada pinjaman-pinjaman yang disalurkan melalui Bank Pembangunan Daerah (BPD) dengan target mendorong pertumbuhan sektor UMKM. Data dari Kemendagri menyebutkan bahwa ada 11 BPD yang mendapatkan penempatan uang negara (PUN) senilai Rp 14 triliun dan telah tersalurkan kredit hingga mencapai Rp27,65 triliun. Rata-rata dana yang disalurkan oleh BPD tersebut adalah kepada UMKM.

“SMESCO Indonesia selama ini telah bekerjasama dengan Pemda untuk melakukan pendampingan ke usaha mikro. Selain itu, Kemenkop & SMESCO juga ingin lebih mengaktifkan koperasi yang telah memiliki azas-azas yang baik seperti sinergi, solidaritas, dan juga kolaborasi. Kita perlu mengintegrasikan usaha-usaha mikro yang ada di koperasi untuk masuk ke rantai usaha yang lebih besar, agar usaha-usaha ini dapat memiliki pengaruh yang lebih luas,” jelas Leonard Theosabrata, Direktur Utama SMESCO Indonesia.

Selain koperasi dan UMKM, revitalisasi desa pun erat kaitannya dengan perencanaan, kebijakan dan pembangunan masyarakat desa. “Kita harus menyeimbangkan konsep spiritual-material dan kami terjemahkan dalam melalui membangun desa dengan suasana kota tanpa meninggalkan nilai lokal dan tradisinya. Sebagai contoh, kami telah membangun desa berbasis digital di 160 desa dan 5 kelurahan. Sedangkan dalam kaitannya dengan konsep implementasi ekonomi lestari, kami sedang dalam proses mendorong wisata berbasis alam agar masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan tetap mendapat manfaat tanpa merusak alam yang ada di Bone Bolango,” jelas Hamim Pou, Bupati Kabupaten Bone Bolango serta Ketua Program Bidang Konservasi LTKL.

Saat ini Kabupaten Bone Bolango bersama dengan LTKL sedang mengembangkan pola implementasi ekonomi lestari sebagai model intervensi pemulihan di masa pandemi. Beberapa pendekatan yang dilakukan adalah pengembangan biogas, pengolahan sampah/ limbah yang lebih ramah lingkungan, adopsi pohon, pelatihan UMKM, dan lain-lain. Untuk implementasi pendekatan ini, LTKL bekerja sama dengan berbagai pihak baik swasta, organisasi masyarakat sipil dan organisasi internasional yang akan diimplementasikan di beberapa kabupaten anggota LTKL seperti Kab. Bone Bolango, Kab. Gorontalo, dan Kab. Musi Banyuasin.

Salah satu mitra gotong royong dalam mewujudkan revitalisasi desa ini adalah Pengalaman Rasa. “Misi Pengalaman Rasa adalah mengangkat makanan lokal Bali dengan tampilan yang lebih cantik dan mewah bagi penikmat kuliner kelas dunia. Dalam merealisasikannya, kami bekerja sama dengan para petani dan artisan lokal dari desa setempat untuk menyajikan makanan dan pengalaman tersebut,” ujar Ayu Gayatri dari Pengalaman Rasa.

Ditambahkan pula pengalaman menarik tentang pemberdayaan pedesaan berbasis lingkungan datang dari cerita Indonesia timur yakni di Papua Barat, oleh Nurhani Widiastuti, Direktur Bentara Papua, “Pengembangan komoditas unggulan yang didorong seperti kopi dan sagu, selain sebagai pemberdayaan pemuda lokal juga sebagai bentuk ketahanan pangan yang baik bagi kebutuhan dalam Papua sendiri, karena masyarakat sekitar harus mengeluarkan sekira 50% dari total penghasilannya untuk belanja makanan.”

Sementara itu Rendy Aditya Wachid, Ketua Pelaksana The 4th International Conference on Village Revitalization (ICVR) menjelaskan, “ICVR berangkat dari keprihatinan kita dengan fenomena desa yang semakin terpinggirkan karena sumber daya alam yang terus menerus diambil dan ditinggalkan oleh generasi muda yang terampil dan berpendidikan. Padahal, desa yang memiliki banyak potensi sebagai pondasi kuat untuk kehidupan nasional dan global yang berkelanjutan. Maka dari itulah revitalisasi desa bersama dengan masyarakat setempat menjadi penting untuk hidup yang berkelanjutan di masa yang akan datang.

ICVR awalnya justru dari kegiatan UMKM di desa (Magno dan Spedagi Bamboo Bike) yang kemudian melahirkan social movement bernama Spedagi juga. Baik Magno maupun SBB mendapat penghargaan internasional prestisius, kuncinya jika menciptakan produk di desa jangan sampai menciptakan produk yang tidak berkualitas, dan terbukti bisa. Pasar Papringan sendiri menginspirasi dan menciptakan trend place making ratusan kegiatan serupa di berbagai tempat di Indonesia. ”

Diskusi interaktif ini merupakan acara awal dari rangkaian kegiatan menuju The 4th International Conference on Village Revitalization (ICVR) yang akan diselenggarakan pada September 2021 dan Festival Kabupaten Lestari yang akan diselenggarakan di Kab. Gorontalo dan Kab. Bone Bolango pada November 2021.

Comment

News Feed