by

Daniel Daki Dae & Gembala Gereja yang sontoloyo

-Profil-321 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Publik tanah air terutama kalangan cendikia, pers, aktor politik, sosial, ekonomi budaya, terus mengenang sosok Doktor Daniel Dhakidae yang telah berpulang awal April lalu. Bagi kalangan gereja Katolik Flores, yang juga dikenal sebagai Vatikan Indonesia, Daniel kelahiran Nagekeo ini mendapat perhatian istimewa, tentu karena kontribusi pemikirannya bagi perkembangan gereja dan bangsa.

Primus Dorimulu, tokoh pers nasional asal Flores, NTT, yang juga Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings, mempertegas sosok Daniel sebagai cendikiawan yang menempuh jalan sunyi. Oleh Beritasatu Media Holdings dan Ikatan Alumni Seminari Mataloko (Alsemat), Primus dihadirkan sebagai moderator Bincang Virtual untuk Daniel pada Sabtu (1/5) sekaligus menyampaikan welcome speech karena mengenal sosok Daniel secara komprehensif.

Primus menyebut Daniel sebagai champion bagi negeri ini, karena telah memberi kontribusi bagi negri, melalui karya-karya yang bermutu. “Legacy-nya adalah integritas dalam menjalankan profesinya, value system yang dipegang teguh, dan dengan integritas itu Daniel bercahaya di level nasional,” ujarnya.

Ketua Alsemat, Emannuel Umbu Billy sangat mengapresiasi sosok Daniel yang juga alumni Seminari Mataloko karena Doktor yang egaliter ini mengakui bisa berkembang (pemikiran) di level nasional dan internasional berkat pendidikan di Seminari. “Saya berharap generasi Alsemat bisa terus mewarisi karya-karya Doktor Daniel Dhakidae,” ujarnya.

Thobias Djadji, tokoh NTT di Jakarta yang juga alsemat, juga bersaksi bahwa Daniel sangat bangga pada almamater Seminari Mataloko dan Cornell University. “Kami anak seminari Matalolo angkatan 1965 sangat mengagumi Daniel karena kepintarannya, juga kepiawaian bermain biola.”

Mohammad Qodari, Chairman Indo Barometer, menilai bahwa setting dan ekosistem yang sangat khas dari para intelektual NTT karena umumnya berlatarbelakang Seminari, dengan penguasaan filsafat, bahasa latin yang kuat. “Harapan saya NTT tidak akan kehilangan bintang-bintang cemerlang berikutnya seperti Daniel Dhakidae, Ignaz Kleden, apalagi didukung lembaga/institusi, dimana kebebasan berpikir, fasilitas, sumber daya, sumber akses tidak terlepas dari lembaga/institusi seperti LP3S dan Kompas yang mendukung jalur karir akademis Daniel.”

Seperti Qodari, Rikard Bagun yang adalah tokoh pers nasional, merespon kegelisahan yang diutarakan Abraham Runga Mali, wartawan senior dan alsemat. “Setiap jaman ada tantangan dan peluangnya sendiri. Satu pergi tetapi akan muncul di horizon orang-orang hebat yang mampu menghadapi tantangan baru. Industri 4.0 saya kira akan menghadirkan tokoh-tokoh baru. Kegelisahaan dari Abraham penting tapi tidak kalah penting dalam sikap yang lebih optimistis kita akan menatap ruang yang baru. Daniel sudah memperkuat inspirasi kita, akan muncul intelektual baru dan lebih hebat, relevan dengan jamannya,” ujar Rikard.

Abraham sangat mengagumi kecerdasan Daniel, dan tak takut mengeksplorasi isi kepala Daniel melalui perang pena. Kebebasan berpikir dan manuver personal Abraham direspon Daniel tanpa dendam, apalagi Daniel seorang cendikia yang egaliter, anti sekat. “Saya sangat kagum Daniel tapi cemas ke depan akan ada orang seperti Daniel? Intelektual publik susah muncul lagi, karena dunia sekarang post sturukturalis, skeptis pada narasi besar terhadap kebenaran, ilmu pengethuan, dan di era digital orang hanya baca sepotong-sepotong, remeh temeh.”

Marsellinus Ado Wawo, pembina alsemat, mengakui sangat mengenal Daniel secara personal dan menaruh hormat karena Daniel konsisten dengan profesinya, dan tetap menjadi sosok yang rendah hati dan lembut.

Frans Padak Demon, wartawan senior, Daniel bisa hadapi tantangan-tantangan di jamannya sehingga muncul sebagai seorang yang istimewa. “Kita perlu belajar dari Daniel, kualitas yang dia miliki sehingga muncul jadi ilmuwan yang hebat.”

Jelena Jenny Rewos, tokoh wanita NTT di Jakarta, mengaku sangat mengagumi intelektual Daniel sejak kuliah di Yogyakarta medio 1972-1975. “Jaman itu hanya sedikit wanita Flores memilih kuliah, dan kami yang kulih ini berlomba-lomba punya pacar idaman seperti Daniel, mahasiswa dan aktivis pintar.”

Di mata keluarga, sosok Doktor Daniel Dhaki Dae tentu tak tergantikan. Meski gagal jadi pastor projo, Daniel tetap hidup layaknya seorang pastor, sangat bersahaja, menjadi sumber terang bagi keluarga. Daniel, seperti Santo Josef (suami Maria), mempunyai mimpi yang kuat sejak ditempa di Seminari dan tidak pernah takut mewartakan kebenaran.

Seorang peneliti Alkitab mengatakan perihal Jangan Takut ditulis Alkitab sebanyak 365 kali, persis sama dengan jumlah hari dalam setahun. Ini tidak kebetulan, dan Daniel bisa saja mengilhami perikop ini. Pastor Albertus Indra OCD dalam kotbahnya minggu Paskah ke-4 (25/4) mengatakan pemimpin harus bisa menjadi gembala seperti Yesus, penggembala domba, bukan penggembala bebek/itik yang sering diumpat sebagai sontoloyo.

Comment

News Feed