by

Pemulihan GDP

-Ekonomi-122 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Perekonomian Indonesia (produk domestik bruto/PDB) menyusut 0,74% pada kuartal pertama (K1) 2021, setelah penurunan 2,19% pada periode sebelumnya. Itu adalah penurunan ekonomi keempat berturut-turut di tengah pandemi virus korona. PDB mencapai Rp3.961,1 triliun pada K1 tahun 2021.

Konsumsi rumah tangga (-2,23% vs -3,61% di K4 2020) dan investasi tetap (-0,23% (vs -6,15%) menurun lebih sedikit sementara permintaan eksternal berkontribusi positif terhadap PDB, karena ekspor tumbuh 6,74%, sementara impor naik 5,27%. Sementara itu, pengeluaran pemerintah meningkat (2,96% vs 1,76% di K4 2020).

Di sisi produksi, output berkontraksi terutama untuk transportasi dan gudang (-13,12% vs -13,42%), akomodasi dan jasa makanan (-7,26%), pertambangan (-2,02% vs -1,20%), manufaktur (-1,38% vs – 3,14%), konstruksi (-0,79% vs -5,67%), perdagangan grosir, eceran (-1,234% vs -3,64%). Sebaliknya, output tumbuh untuk komunikasi (8,72% vs 10,91%).

Industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB (19,84%), diikuti oleh pertanian-kehutanan-perikanan (13,17%), perdagangan eceran & grosir-reparasi mobil dan sepeda motor (13,10%), konstruksi (10,80%), serta pertambangan dan pengeboran (7,65%). Berdasarkan wilayah, kontraksi terjadi di Jawa (-0,83%) secara tahunan (y/y), Sumatera (-0,86%), Kalimantan (-2,23%), dan Bali-Nusa Tenggara (-5,16%). Sedangkan pertumbuhan positif terjadi di Sulawesi (1,2%) dan Maluku-Papua (8,97%), didorong oleh kegiatan usaha pertambangan dan mineral.

Namun Maluku-Papua hanya menyumbang 2,44% terhadap PDB, sedangkan Sulawesi menyumbang 6,52%. Bali-Nusa Tenggara memberikan kontribusi 2,75%, sedangkan Kalimantan memberikan kontribusi 8,05%. Sumatera memberikan kontribusi 21,54% dan Jawa memberikan kontribusi terbesar (58,70%).

Ke depan, pemulihan ekonomi masih menjadi tantangan karena dampak pandemi COVID-19 kemungkinan akan berlanjut hingga tahun depan. Pertumbuhan kredit perbankan masih terkontraksi karena konsumsi domestik belum pulih. Penjualan ritel tetap mengalami kontraksi di K1 tahun ini. Ekspor menunjukkan perkembangan positif seiring dengan surplus perdagangan dalam beberapa bulan terakhir. Investasi membaik sebagaimana tercermin dari PMI manufaktur yang meningkat, dan impor bahan baku naik 26,4% pada Maret 2021.

Presiden Joko Widodo optimistis perekonomian Indonesia akan tumbuh 5% tahun ini dengan berbagai upaya yang dilakukan pemerintah. Dalam APBN 2021, Pemerintah menargetkan ekonomi tumbuh 4,3-5% tahun ini. Sedangkan Dana Moneter Internasional (IMF) telah melaporkan prospek perekonomian Indonesia. PDB riil diproyeksikan meningkat sebesar 4,8% pada tahun 2021 dan 6% pada tahun 2022, didorong oleh dukungan kebijakan yang kuat, termasuk peningkatan investasi publik dan rencana distribusi vaksin COVID-19, serta kondisi ekonomi dan keuangan global yang membaik.

Badan Pusat Statistik (BPS) juga melaporkan bahwa tingkat pengangguran di Indonesia meningkat menjadi 6,26% pada K1 tahun 2021 dari 4,94% pada K1 2020, di tengah kemerosotan ekonomi yang disebabkan oleh dampak virus corona. Jumlah pengangguran melonjak 1,82 juta menjadi 8,75 juta. Sementara itu, jumlah pekerja menurun sebesar 2,23 juta menjadi 131,06 juta, sebagian besar terjadi di transportasi dan gudang (-0,30%) sedangkan pada akomodasi dan jasa makanan jumlah pekerja meningkat (0,34%). Sementara itu, tingkat partisipasi angkatan kerja turun menjadi 68,08% di K1 dari 69,21% di tahun sebelumnya.

Comment

News Feed