by

Arifin Pua Mbey: Luar biasa sambutannya

DEPOK (eNBe Indonesia) – Kunjungan umat Muslim Tonggo dan Remaja Mesjid Mauponggo ke kampung Pajoreja, Desa Ululoga, Kecamatan Mauponggo, dalam rangka silahturahmi disambut secara luar biasa oleh warga kampung Pajoreja, sebuah kunjungan paling istimewa untuk tempat Wudu Alami di kaki gunung Ebulobo, Nagekeo, Flores di Hari Lebaran ini (14/5).

“Suasana haru dan penuh rasa bangga yang saya lihat dari raut wajah orang-orang Pajoreja yang setelah tahu kita dari Tonggo yang datang. Luar biasa sambutannya. Mereke bergerak cepat cari kepala desa dan beberapa tokoh adat untuk mendampingi kita,” ujar Arifin Pua Mbey, pimpinan rombongan, melalui pesan whatsup (WA) kepada Redaksi eNBe Indonesia.

Arifin menandaskan bahwa warga Pajoreja masih ingat sangat baik keturunan awal mereka dari Tonggo. “Selama ini mereka tahu kalau pohon mereka ada di Tonggo. Sehingga beberapa tahun lalu pada acara adat para kamba di Kampung Sawu. Desa Sawu, Kecamatan Mauponggo, dalam bhea sa (seruan adat) mereka menyebut ‘KAMI DHI WINI KOO WAWI TORO, KAMI PORO PU’U MENA TOGO, MENA TOGO NEE PUA MBEY KAKAJODHO’.”

Arifin pun menjelaskan napak tilas, kembali menelusuri jejak tapak kaki perjalanan seorang anak gadis Muslimah dari Tonggo (Embu MBUKA OMA) yang bersuamikan orang Kampung Pajoreja (Embu BU’U MONI/belum beragama). Embu Mbuka Oma (Buka Oma) meminta pada suaminya agar menggali sumur untuk berwudu dan tempat untuk syolat.

Sampai dengan hari ini sumur itu di beri nama Ae Wudu dan di sampingnya ada batu plat/datar tempat embu Mbuka syolat, diberi nama Watu Noa. Konon di atas batu itu beliau sering mengaji. Oleh orang setempat suara itu kedengaran seperti suara anjing melonglong (lako noa), maka batu itu diberi nama Watu Noa. Dan hari ini, Pemda Nagekeo telah menetapkan lokasi ini menjadi salah satu destinasi wisata dan Desa Ululoga menjadi Desa Wisata.

Comment

News Feed