by

Katolik yang radikal & Islam yang moderat

-Toleransi-384 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kota Depok, bersama Paroki Bunda Maria Ratu (BMR) Sukatani dan Sekolah Maria Sukatani, pada Sabtu (22/5) mengadakan seminar sehari dengan topik “Dialog Kebangsaan dan Kerukunan Umat Beragama” mengusung tema “Membangun Sinergitas antar Umat dan Moderasi Beragama di Kecamatan Tapos”.

Tampil sebagai narasumber adalah Irawan Edi Sutrisno, S.Pd, MM (Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kota Depok), Romo (RD) Dyonysius Adi Tejo Saputro (Koordinator Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Bogor juga Pastor Paroki MBR), RD. Dionnysius Manopo (Koordinator Komisi Hubungan Antar Agama & Kepercayaan Keuskupan Bogor), Ustad Ikhwanuddin, S.Ag, M.M.Pd, dan Maria Mediatrix Mali (Ketua Yayasan Kodrat “YPAB” Persekutuan Doa “YA” Sekolah Maria). Peserta seminar mencakup anggota DPP & DKP Paroki BMR, perwakilan Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Bogor, RW & RT di wilayah Sekolah Maria, karyawan & guru-guru Sekolah Maria.

“Acara kita hari ini (Sabtu-red) adalah dialog kerukunan, untuk saling berkenalan, dan membangun silahturahmi,” ujar Irawan saat membuka seminar. Pada dua minggu lalu, Paroki MBR diresmikan oleh Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur, OFM. Kemenag Kota Depok, kata Irawan, mengisi momentum ini dengan seminar Dialog Kebangsaan dan Kerukunan Umat Beragama agar pengurus gereja (DKP dan Kerawam) bisa berinteraksi untuk bersinergi, membangun fondasi kebangsaan yang lebih baik ke depan.

Romo Dyon Saputro mengatakan, Paroki BMR saat ini memiliki sekitar lebih dari 2800 umat Katolik di wilayah Sukatani, dan aktif terlibat dalam forum kerukunan antar umat beragama yang terbentuk pada satu tahun terakhir. “Gereja itu bagian dari masyarakat dan ikut berperan menata perbedaan menjadi sebuah harmoni yang indah. Maka Gereja selalu menyerukan umatnya untuk tidak berdiam di rumah, dan menjadi ekslusif,” ujarnya.

Perbedaan, tegas Romo Dyon Saputro, jangan sampai menjadi batu sandungan, dan kunci toleransi itu sebenarnya bagaimana menyadari ihwal perbedaan, tentu butuh kerendahan hati, tidak mempertahankan ego, tetapi akal budi dan hati akan berperan untuk menata perbedaan.

Romo Dion Manopo juga menghimbau semua warga dan pemeluk agama untuk menjadi orang beragama yang bijak, artinya tidak cenderung menghakimi, mencerca orang lain. “Moderasi Beragama adalah cara pandang, sikap, serta perilaku yang selalu mengambil posisi di tengah-tengah, sehingga dapat selalu berlaku adil, berimbang, tidak ekstrim dalam praktik beragama,” jelasnya.

Maka norma umum dalam moderasi beragama, lanjut Romo Dion, adalah setiap individu pemeluk agama harus mau saling mendengarkan satu sama lain, serta saling belajar melatih kemampuan mengelola dan mengatasi perbedaan pemahaman keagamaan di antara mereka.

“Ingat, keberagaman itu seperti pisau bermata dua, bisa menjadi sebuah anugerah tapi juga bencana. Fenomena yang meresahkan akhir-akhir ini nyatanya menunjukkan kepada kita, ternyata menjadi berbeda itu sungguh sangat menyakitkan dalam kehidupan bersama, membuat kita merasa disisihkan, didiskriminasi, menjadi orang asing, sungguh tidak mengenakkan.”

Maka itu, Romo Dion memberi perhatian pada tiga hal, yaitu berilmu, berbudi, dan berhati. Dalam medsos, banyak yang terjebak dalam algoritma kata kunci. Seringkali banyak yang merasa sudah berilmu dengan giat di media sosial saja, lalu cepat merasa tahu segalanya, dan dengan mudah menghakimi dan menilai orang lain.

Berbudi artinya memiliki watak, kepribadian atau kemauan untuk berbuat baik. Sementara Berhati (hati), artinya harus mempunyai niat yang tulus untuk merangkul orang-orang yang ada di sekitar. “Tiga hal di atas menjadikan kita pribadi yang mengusahakan toleransi, rukun, dan damai, sehingga menjadi modal bagi kesatuan bangsa kita,” jelas Romo Dion.

Ustad Ikhwanuddin juga menjelaskan, dalam konteks Teologi Islam, moderasi beragama itu artinya tidak berlebihan, di tengah-tengah, proporsional/moderat. “Moderasi dalam beragama, semangatnya bagaimana saling menjaga, mengasihi sesama umat manusia, tidak membeda-bedakan. Ini penting kita kembangkan. Dalam soal akidah semua sepakat, tidak bisa ada toleransi karena itu sesuatu yang prinsip. Tapi dalam hal mu’amalah, hubungan antar manusia, Sabda Rasul/Nabi Muhammad SAW, siapa di antara kalian yang memusuhi, menyakiti non Muslim yang hidup berdampingan dengan kita maka dia sungguh telah menyakiti aku.”

“Jangan pernah ada permusuhan karena perbedaan agama, itu sudah fitrah. Tidak ada alasan bagi kamu untuk memerangi mereka sampai mereka beriman. Moderasi beragama, menanamkan pemahaman terhadap perbedaan agama, sehingga melahirkan sikap bijak dalam menghadapi berbagai perbedaan yang ada,” jelas Ustad.

Ustad Ikhwanuddin mengakui ada kelompok radikal di dalam Islam, tapi mayoritas adalah Islam yang moderat, maka kerukunan antar umat Islam juga jadi perhatian, selain membina kerukunan dengan agama lain. Romo Dyon Saputro juga mengakui jika di Katolik pun ada kelompok radikal, seperti mafioso di Eropa.

dh Antonius Mulyanto, anggota Kerawam Paroki Santo Thomas Kelapa Dua, meminta Kemenag Kota Depok memerangi bibit-bibit radikal agama agar tidak menjadi bom waktu, apalagi Kota Depok dan Propinsi Jawa Barat dinilai sebagai wilayah paling intoleran.

Namun, Ustad Ikhwanuddin menimpal karena Depok dan Jawa Barat tetap kondusif selama ini, dan tidak ada agama dan kepercyaan tertentu yang dimarginalisasi. “Soal Depok intoleran, ini penilaian banyak sisi politis sebetulnya. Justru statement ini bisa bangkitkan bibit bom waktu itu. Saya kuatir ada pihak-pihak sengaja ciptakan suasana inkondusif.”

Thomas Suharjono, tokoh gereja dari Paroki Herkulanus Depok, berharap predikat Kota Depok intoleran sudah berubah dalam tiga tahun terakhir ini seiring dengan semakin giatnya kegiatan-kegiatan membina kerukunan antar umat beragama.

Romo Dyon Saputro mengapresiasi Sekolah Maria yang hadir di tengah-tengah masyarakat pluralis di Sukatani, sebagai simbol kehadiran Gereja. Maria Mediatrix Mali mengatakan Sekolah Maria sebagai komunitas pendidikan sudah sangat menyatu dengan masyarakat, dan mendapat dukungan dari tokoh masyarakat dan tokoh agama. “Tuhan tidak lihat agama, tapi keberkahan itu ada jika kita akur dengan siapa pun. Inilah bhineka tunggal ika.”

Comment

News Feed