by

DANAU KELIMUTU TERANCAM KERING

Laporan Nocent W. Doi

ENDE (eNBe Indonesia) – Tiwu Atabupu (danau orang tua) salah satu danau dari tiga danau Kelimutu yang menjadi ikon pariwisata Nasional kini terancam kering. Ketinggian air danau hanya tinggal beberapa meter saja dan diprediksi dalam beberapa bulan kedepan, air danaunya akan benar-benar hilang.

Demikian hal ini diungkapkan Wakil Ketua Perkumpulan Pelaku Pariwisata Moni Kelimutu (P3MK), Yanto Wangge kepada media ini Senin (24/5) di kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Ende.

Menurut Yanto, fenomena surutnya debit air danau di Tiwu Atabupu sudah terjadi sejak adanya aktifitas pengeboran pembangkit Listrik tenaga panas bumi di Mutubusa desa Sokoria Kecamatan Ndona Timur oleh PT. Sokoria Geothermal Indonesia. “Kuat dugaan surutnya air danau itu berkaitan erat dengan adanya aktifitas pengeboran di Mutubusa oleh PT. SGI. Air mulai surut itu sejak tahun 2019,” jelas Yanto.

Yanto Wangge, juga mengakui bahwa pihaknya pernah mempertanyakan fenomena surutnya air danau tersebut pada otoritas pengelola Badan Taman Nasional Kelimutu (TNK) dan petugas vulkanologi Moni namun penjelasannya tidak memuaskan.

“Karena kami butuh penjelasan ilmiah dengan menampilkan bukti kajian amdal, baik sebelum dan saat pelaksanaan pengeboran di Mutubusa, mengingat lokasi pengeboran pembangkit listrik tenaga panas bumi itu dekat sekali dengan dinding kawah danau Tiwu Atabupu. Tapi jawaban kepala TNK bahwa kajian itu pernah dilakukan pada tahun 2008 jauh sebelum projek Mutubusa dilaksanakan, ini menurut kami sudah tidak sesuai. Apalagi penyampaiannyapun lisan saja tidak menunjukan bukti kajiannya,” urai Yanto.

Lebih lanjut Yanto Wangge menjelaskan maksud kedatangan P3MK ke Dinas Pariwisata Kabupaten Ende untuk menyampaikan keprihatinan masyarakat Moni kepada kepala dinas atas fenomena yang terjadi di Danau Kelimutu. Diharapkan Kepala Dinas Pariwisata segera mendesak pihak Balai TNK dan PT. SGI segerah melakukan penelitian ilmiah sebagai solusi penyelesaian personal surutnya debit air danau.

“Kami minta Dispar Ende segerah mendesak TNK, Vulkanologi dan PT. Sokoria Geothermal Indonesia, segerah melakukan penelitian yang komperhensif, agar kita bisa tahu ikhwal surutnya air danau itu. Apakah karena fenomena alam atukah disebabkan kelalaian manusia dalam pengelolaan project pembangkit Listrik tenaga Panas Bumi Mutubusa Sokoria,” tandas Yanto Wangge.

Jika dari hasil penelitian membuktikan bahwa fenomena tersebut karena kejadian alam maka pihaknya bisa memakluminya tetapi apabilah hal itu karena kelalaian maka pihaknya minta aktivitas pengeboran oleh PT. SGI di Mutubusa segerah dihentikan, jika ingin destinasi Kelimutu tetap berlanjut.

“Sekarang baru terlihat nyata satu danau nanti akan menyusul dua danau lain karena dua danau itu juga sudah turun debit airnya. Ini ancaman serius bagi dunia pariwisata Ende, Flores, NTT dan Indonesia. Bukankah Kelimutu adalah salah satu destinasi unggulan di Indonesia?” tanya Yanto retorik.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ende, Martinus Satban kepada masyarakat Perkumpulan Pengelola Pariwisata Moni mengaku mendukung upaya advokasi Yanto Wangge dan kolega sebagai aspirasi masyarakat. Namun pihaknya belum dapat menyimpulkan. Ia berjanji akan segera berkoordinasi dengan pihak-pihak yang terkait.

“Saya setuju ini memang ancaman yang serius bagi pariwisata kita. Terus terang saya belum bisa simpulkan bahwa dugaan surutnya air di danau Tiwu Atabupu itu karena kelalaian ataupun karena keadaan alam. Kami akan segerah berkoordinasi dengan pihak-pihak yang terkait untuk segerah melakukan kajian, supaya segera terjawab sebab musabab surutnya air danau itu,” jelas Tinus Satban.

Sebelum menemui Kadis Pariwisata Ende, Martinus Satban, aliansi masyarakat yang tergabung dalam P3MK ini, telah terlebih dahulu menemuai DPRD Kabupaten Ende untuk menyampaikan aspirasi tersebut. Sebagai tanggapan serius DPRD Ende telah mengirimkan undangan dengar pendapat dengan beberapa institusi terkait yakni Balai Taman National Kelimutu, Vulkanologi Ende, PT. Sokoria Geothermal Indonesia (SGI), Badan Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ende dan Dinas Pariwisata Kabupaten Ende yang akan berlansung besok Selasa (25/5) di Gedung DPRD Ende.

Comment

News Feed