by

Messi Itu Ibarat Film Porno: Semua Orang Menyukainya Tetapi Di Depan Publik Semua Menyangkal

Kupang (eNBe Indonesia) – Kompetisi liga besar Eropa sudah usai. Tetapi pemberitaan tentang sepakbola tak pernah berakhir. Tidak tentang prediksi hasil ataupun analisis pasca pertandingan, justeru berita bursa transfer kian memanas menjelang musim panas.

Bursa transfer meninggalkan banyak teka-teki bagi publik sepakbola. Kepindahan seorang pemain dikunci rapat-rapat. Apakah karena bargaining yang sedang alot? Ataukah memang baik pihak manajemen maupun pemain sengaja merahasiakan hingga menunggu waktu yang tepat untuk dipublikasi?

Messi misalnya, isu kepindahan dari Barcelona menghangat di berbagai media. Kini, hampir sama hangatnya, isu bertahannya Messi di Barcelona. Messi masih menjadi sebuah teka-teki. Kecuali Messi, agennya dan manajemen Barcelona yang tahu pasti kemana La Pulga berlabuh kelak.

Terlepas dari isu kepindahan Messi, di luar sana terjadi rivalitas antara Messi dan Ronaldo kian memanas. Rivalitas terjadi justeru bukan antara kedua pemain itu melainkan antar fansnya masing-masing. Banyak media yang mengekspos stastistik kedua pemain ini. Pula media Facebook, baik akun pribadi maupun fanpage memosting rivalitas dari sisi statistik pencapaian kedua pemain. Mereka lalu membandingkan antara yang satu dengan yang lainnya. Tentu mengklaim idolanya adalah yang terbaik.

Sejak kehadiran Ronaldo dan Messi, pusat perhatian dunia tertuju pada keduanya. Keduanya kejar-mengejar trofi Ballon D’ior, gol dan trofi lainnya. Ada yang mengatakan Messi adalah Greatest of All  Time (Goat) alias “terbaik sepanjang masa”, pada waktu yang sama pihak lain mengklaim Ronaldo Goat pula.

Orang boleh saja  mengklaim Christiano Ronaldo adalah the Goat. Begitu pula kubu lain memuja Messi sebagai the Goat. Kedua kelompok yang berseberangan pasti memiliki alasan. Alasan yang membenarkan atau menguatkan pilihan mereka pada sang idola.

Sudah banyak data dan angka statistik yang disuguhkan kepada kita baik itu Messi maupun Ronaldo hampir dari seluruh  sisi sepakbola dan atribut yang melekat pada kedua pemain. Di sini, saya ingin berpendapat menunjukkan kiranya siapa yang menjadi terbaik sejagat.

Membandingkan Messi dan Ronaldo, saya sepaham dengan ucapan Mourinho, “Messi seperti film porno, semua orang suka. Tapi di depan publik, mereka semua menyangkalnya.”

Pernyataan jujur Mourinho. Sosok yang [mungkin] menderita selama menukangi Real Madrid ketika besutannya berhadapan dengan La Pulga dalam tajuk “el classico”. Lain hal pernyataan itu berasal dari Gurdiola. Publik akan menilai pernyataannya mengandung subyektifitas tinggi karena faktor kedekatannya dengan Messi sebagai anak asuh.  Mourinho bisa mewakili pencinta sepakbola yang sebenarnya menyukai Messi, tetapi berbagai alasan seolah-olah memusuhinya.

Messi bagi saya,  adalah pemain yang sejatinya lahir untuk bermain bola. Memiliki bakat mengolah si kulit bundar yang tak biasanya. Kita sulit mensejajarkan Messi untuk semua aspek dengan pemain lain, sekalipun dengan Pele, Diego Maradona atau Ronaldo.

Pele, Diego Maradona atau Ronaldo  adalah pemain bertalenta sama seperti Messi.  Kalau bukan talenta bagaimana mungkin mereka bisa menggapai  prestasi luar biasa.  Namun, ukuran atau kapasitas talenta setiap orang itu berbeda-beda. Dalam teks suci (Kitab Suci, red), terdapat naas yang menceritakan perumpaan tentang talenta. Disebutkan seorang tuan memercayakan harta milik kepada hamba-hambanya. Seorang hamba menerima menerima lima talenta, hamba yang kedua memperoleh dua talenta dan yang ketiga menerima satu talenta.  Hamba pertama dan kedua mampu mengembangkan talentanya sedangkan yang terakhir justeru menyembunyikan talentanya.

Kisah ini hendak mengatakan bahwa setiap manusia dikarunia talenta tetapi jumlah tak sama sesuai kemampuan. Maka dapat dikatakan bahwa kuantitas talenta Ronaldo tak sebanyak Messi. Secara kuantitas talenta tidak sebanyak Messi, tetapi Ronaldo mampu melipatgandakannya melalui usaha, kerja keras dan latihan tanpa pernah lelah. Tetapi Messi tidak menggandakan talentanya dengan maksimal. Dengan talenta yang dimilikinya saja ia mampu membuktikan dirinya.

Barangkali itu sebabnya, orang berpendapat Messi adalah bakat, Ronaldo adalah hasil dari kerja keras. Pendapat ini tak dapat dibenarkan. Hemat saya, kualitas pemain merupakan gabungan dari keduanya – talenta dan kerja keras (latihan, red).

Soal talenta di atas rata-rata terdapat pada sosok Messi. Bila kita mengamati pergerakan Messi di lapangan hijau akan tampak sangat natural. Menonton Messi sama seperti menonton video game. Atau dengan kata lain, kepiawaian Messi hampir mendekati video game. Realitas ini diakui banyak pemain besar seperti Ivan Rakitic – bahkan petenis putri dunia Victoria Azarenka mengungkapkan hal yang sama.

Secara alami, Messi mengalir gen sepakbola tulen. Teknik, taktik dan improvisasinya di lapangan  terjadi begitu saja. Carlos Tevez membandingkan Ronaldo dengan Messi. Menurutnya, Ronaldo lebih giat berlatih di pusat kebugaran sementara Messi tidak – jarang melakukan latihan teknis. Pernyataanya dapat dibenarkan. Karena Messi merasa ia telah miliki teknik dan kemampuan sebagai seorang sepakbola.

Selain soal talenta atau bakat yang bersemayam di dalam diri pemain,  sepakbola tidak sekedar hiburan yang mengandalkan fisik, kecepatan dan kekuatan semata. Sepakbola adalah seni pula sama seperti olahraga lain – beladari misalnya – sekalipun tujuan akhir sebuah permainan sepakbola ada gol.

Diakui banyak pemain dan pelatih serta fans memiliki filosofi sepakbola pragmatis –  mengutamakan gol daripada proses gol tercipta (permainan, red).  Contoh pelatih pragmatis seperti Mourinho. Tak sedikit pula yang mempertontonkan sepakbola sebagai medan hiburan – nenyuguhkan permainan yang solid dan menghibur pentonton. Brasil dan Barcelona adalah contoh tim yang memiliki daya entertain sedangkan pemain ada pada diri  Messi, sang maestro.

Mau buktikan? Putar ulang video dan tontonlah setiap laga yang dilakoni Barcelona. Fokus pada sosok Messi. Lihatlah bagaimana ia melewati dua, tiga, tujuh bahkan lebih pemain, sebelum menjaringkan bola? Berapa kali Messi memperdayai lawan-lawan dengan gerakan tipu tubuhnya? Berapa kali Messi peran (secara pribagi dan tim, red) mampu mengembalikan keadaan Barcelona pada laga-laga vital? Berapa kali Messi menyilangkan umpan yang memanjakan pemain lain kemudian berbuah gol? Berapa kali Messi berjibaku, jatuh bangun, mendominasi pertandingan yang menghantar timnya menang? Berapa kali Messi menggiring bola dari tengah tengah lapangan dan sayap kiri-kanan lapangan? Berapa kali Messi menyarangkan bola melalui tendangan bebas? Masih banyak pertanyaan yang dapat diajukan tanpa perlu dijawab, cukup cari, buka dan tonton videonya di YouTubeveni, vidi, vici.

Memang hal-hal di atas di tak diperhitungkan dalam statistik penentuan rekor. Tetapi setidaknya ini menggambarkan dirinya sebagai pertarung, seniman, pemimpin dan inspirator bagi pemain yang lain yang menghadirkan sepakbola tak sekedar olahraga, di atas segalanya lapangan sepakbola adalah medan pertunjukkan seni, Messi adalah konduktor sekaligus masteronya.

Kita kadang dibuat tersenyum membaca postingan dengan caption seperti “Messi vs Real Madrid”, “Messi vs Brazil” dan masih banyak lagi. Caption seperti ‘nyeleneh’ bagi klub lawan. Tapi itulah kenyataan. Messi tak berdiri manis di depan gawang sembari menunggu umpan rekannya di depan gawang lawan. Messi tak melakukan solo run seorang diri dan bola di kakinya lalu menjebloskan ke gawang lawannya. Messi selalu mempertontonkan kreasi dan aksi, di depan, di tengah maupun di belakang, meskipun dalam kepungan musuh, peluang gol pun dapat diciptakannya. Singkat kata, dominasi Messi lebih dari representasi Messi sebagai seorang individu di lapangan hijau.

[Menjadi] pemain sepakbola terbaik dari planet ini tanpa harus berpindah-pindah dari satu klub besar ke klub besar lain, dari satu liga ke liga yang lain. Menjadi pemain sepakbola terbaik hanya dengan menjadi pemain sepakbola – tak penting dimana pemain itu bermarkas karena FIFA tak mengaturnya.

Apakah dengan mudah kita mengatakan Messi bukanlah yang terbaik hanya karena ia bermain di La Liga? Bermain untuk Barcelona semata? Tentu tidak!  Ini soal pilihan hidup. Setiap pilihan memiliki alasan yang hakiki dari pribadi yang merengkuh pilihan itu. Sekalipun bermain di Barcelona, Messi telah mempertontonkan kapasitas dan intelegensianya pada level kompetisi yang lebih tinggi. Messi pernah berhadapan dengan klub-klub besar lainnya. Pada ajang  Champion misalnya, berapa banyak klub yang bertekuk lutut di kaki La Pulga? Bayern Munchen, Manchester United, Juventus, AC Milan dan banyak lagi pernah mengalami rasa pahit dalam ajang tersebut. Lantas, kita mengatakan Barcelona (Messi, red) jago kandang saja. Tidak! Karena klub yang dihadapinya adalah klub-klub besar dari negaranya masing-masing.

Pada akhirnya, membandingkan Messi dengan Ronaldo, kita tidak berhenti pada pencapaian keduanya  secara  kuantitas seperti jumlah gol, trofi, jumlah klub yang dibelanya dan banyak lagi.  Ronaldo boleh saja mencetak 1000 gol dalam kariernya. Tetapi pertanyaan, berapa lama gol tersebut dihasilkan? Berapa pertandingan dilakoni sehingga mengoleksi gol sebanyak itu? Bagaimana proses gol itu? Apakah dari sebuah serangan balik? Apakah gol itu hasil dari tendangan penalti? Dan, banyak pertanyaan lain, yang harus ditelusuri atau dijejaki untuk membandingkan Messi dengan Ronaldo.

Dari kacamata saya,  Messi tidak mengejar kuantitas tetapi kualitas. Kualitas permainan, tim, performance dan kepribadian. Sepertinya pada ucapannya.

“Aku memilih untuk memenangkan gelar (bersama tim) ketimbang hadiah individu atau mencetak gol. Aku jauh lebih peduli untuk menjadi orang baik dibanding menjadi pemain terbaik dunia.”

Pernyataan Messi adalah potret kerendahan hatinya serta sikap dan pilihan hidupnya yang tidak dapat diperdebatkan oleh siapapun. Sekaligus, pernyataannya mengingatkan kita bahwa menjadi pribadi berkualitas (baik, red) adalah tujuan hidupnya melalui sepakbola.

Lantas, membandingkan Messi dan Ronaldo tak akan habisnya selama kita berpijak pada ‘ketertutupan’ diri kita terhadap yang lain. Dari Mourinho kita dapat belajar, kata-katanya menjadi cermin kejujuran yang tersumbunyi di hatinya.

“Messi seperti film porno, semua orang suka. Tapi di depan publik, mereka semua menyangkalnya.”

Seperti itukah Anda pada Messi? Jujurlah seperti Mourinho! Karena sesungguhnya Messi memiliki segala-galanya sebagai pemain, pribadi, dan suami serta ayah bagi anak-anaknya. Lebih dari itu, ia adalah seniman sepak bola, mampu mengukir di atas kanvas yang namanya lapangan hijau dengan liukan tubuh dan ekspresi yang sangat indah. Dia adalah bola dan sepakbola. Bersenyawa menjadi alien yang turun di jagad raya ini. (gbm)

Oleh: Giorgio Babo Moggi

Comment

News Feed