by

PLN Bukukan Laba Rp5,99 Triliun

-Ekonomi-60 views

Perusahaan listik milik negara PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) membukukan laba bersih Rp5,99 triliun pada 2020, tumbuh 37,2% dari Rp4,32 triliun pada 2019, berkat beban pajak penghasilan yang lebih rendah. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp345,4 triliun tahun lalu — turun 3,9% dari tahun sebelumnya.

Penjualan listrik turun 0,36% menjadi Rp275 triliun, sedangkan biaya sambungan pelanggan turun menjadi Rp312 miliar saja dari Rp6,93 triliun pada 2019. Subsidi listrik pemerintah juga turun 7,7% menjadi Rp47,9 triliun, dan pendapatan kompensasi turun 18,2% menjadi Rp17,9 triliun. Sebaliknya, pendapatan lain-lain melonjak 65% menjadi Rp4,3 triliun. Depresiasi rupiah juga berdampak pada pendapatan PLN. Pada tahun 2020 tercatat rugi selisih kurs (valas) Rp7,74 triliun, dibandingkan perolehan devisa Rp9,48 triliun pada 2019.

Di sisi penerimaan, koreksi terjadi karena konsumsi domestik yang lemah karena tarif yang tidak disesuaikan. Tahun lalu PLN tidak mengubah tarifnya, justru memberikan potongan tarif selama pandemi COVID-19. Beban bahan bakar dan pelumas turun 22% menjadi Rp106 triliun, sementara pembelian listrik meningkat 18,1% menjadi Rp98,65 triliun. Jadi, PLN hanya berhasil menaikkan pendapatan operasional menjadi Rp44,4 triliun pada 2020, dari Rp44,16 triliun pada 2019. Beban keuangan juga naik 12,5% menjadi Rp27,4 triliun, membatasi pertumbuhan laba bersih.

Pada neraca arus kas, PLN menghasilkan kas bersih sebesar Rp95,2 triliun dari aktivitas operasi selama tahun 2020, lebih tinggi dari Rp39,7 triliun yang dihasilkan pada tahun 2019. Perseroan menerima kompensasi sebesar Rp45,4 triliun pada tahun lalu, dibandingkan nol tahun sebelumnya. PLN memotong investasinya tahun lalu, menghabiskan Rp69,9 triliun untuk akuisisi aset tetap, dibandingkan Rp100,4 triliun yang dibelanjakan pada 2019. PLN menggunakan kas bersih Rp18,5 triliun untuk aktivitas pembiayaan, sedangkan pada 2019 menghasilkan Rp75 triliun. Kas dan setara kas PLN mencapai Rp54,73 triliun per Desember 2020.

PLN memiliki aset Rp1.589,06 triliun, sedangkan kewajibannya Rp649 triliun terdiri dari pinjaman bank Rp18,8 triliun dan utang obligasi/sukuk Rp14,97 triliun. Hutang usaha kepada pihak ketiga mencapai Rp30,6 triliun, jaminan nasabah sebesar Rp14,8 triliun, dan hutang lain-lain mencapai Rp30,89 triliun.

Namun, Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengatakan rasio utang terhadap Ebitda membaik menjadi 4,38 kali per April 2021 dari sebelumnya lima kali. PLN kemudian memilih untuk meninjau proyek pembangkit listrik barunya dengan skema take or pay. PLN akan fokus pada efisiensi biaya dan negosiasi ulang dengan IPP (produsen listrik independen) untuk review skema take or pay.

Zulkifli mengklaim PLN membukukan laba bersih Rp5,2 triliun pada periode Januari-April 2021, dibanding rugi Rp13,9 triliun pada periode yang sama tahun 2020, berkat penurunan rugi selisih kurs. Untuk tahun ini, PLN menargetkan bisa membukukan laba bersih Rp11,4 triliun.

Comment

News Feed