by

PUAN versus GANJAR

-Politik-64 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Ketegangan berkobar di dalam partai berkuasa PDIP, terutama antara Puan Maharani dan Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah. Ganjar tidak diundang ke acara PDIP yang dihadiri Puan di Jawa Tengah. Banyak yang percaya itu adalah pertarungan politik terkait pemilihan presiden 2024, dengan tiket dari PDIP yang dipertaruhkan.

PDIP Provinsi Jawa Tengah (DPD) menggelar acara pada 22 Mei di kantor pusatnya di Semarang, Jawa Tengah. Selain membuka pameran galeri foto, acara 22 Mei ini juga menjadi momen konsolidasi kader Partai di provinsi tersebut.

Puan Maharani yang kini menjadi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) turut hadir dalam acara tersebut, bersama seluruh pimpinan daerah di Jawa Tengah dari PDIP. Anehnya, Ganjar menjadi satu-satunya yang tidak diundang ke acara tersebut meski merupakan politisi PDIP dan Gubernur Jawa Tengah.

Kepala PDIP Provinsi Jawa Tengah Bambang Wuryanto a.k.a Bambang Pacul membenarkan, pihaknya tidak mengundang Ganjar ke acara tersebut. Bambang, yang juga Ketua Badan Kemenangan Pemilu (Bappilu) PDIP, membeberkan alasannya kepada pers. Menurut Bambang, seperti dikutip Detikcom, Ganjar sudah melewati batas. Dia diduga menganggap dirinya lebih besar dari PDIP provinsi Jawa Tengah dan hanya Ketua PDIP Megawati Soekarnoputri yang bisa menegurnya.

Bambang Wuryanto juga mengatakan bahwa Ganjar memiliki ambisi mencalonkan diri sebagai presiden pada 2024. Ganjar mengabaikan nasihat PDIP Provinsi Jawa Tengah untuk menahan ambisi politiknya. PDIP Provinsi Jawa Tengah tidak menyukai manuver Ganjar membentuk tim media sosial untuk membantu Gubernur meningkatkan elektabilitasnya. Bambang mengingatkan Ganjar bahwa tugasnya sebagai Gubernur Jawa Tengah belum berakhir. Ganjar harus meminta izin Megawati sebelum mencalonkan diri sebagai presiden pada 2024. Ia meminta Ganjar tidak bermanuver tanpa restu Megawati.

Dalam pidatonya yang disampaikan pada acara 22 Mei di Semarang, Puan menyebut bahwa para pemimpin bukanlah mereka yang aktif di media sosial semata. Dia mengatakan kepada pendukungnya untuk tetap diam untuk mematuhi aturan Partai meskipun mereka siap untuk pemilihan presiden 2024. Banyak yang percaya bahwa pernyataan Puan ditujukan kepada Ganjar.

Ganjar dengan tenang menanggapi masalah tersebut. Di hari yang sama dengan acara 22 Mei, Ganjar berada di Jakarta mengunjungi Megawati. Dalam pertemuannya dengan Megawati, Ganjar menyampaikan lukisan karya Djoko Susilo, seniman asal Jawa Tengah. Megawati sangat senang dengan momen ini. Ganjar merekam momen tersebut dan mempostingnya di akun media sosialnya. Djoko Susilo pun memposting video yang sama di akun Instagram miliknya.

Ketegangan antara Puan dan Ganjar sudah diperkirakan. Seperti banyak partai lain, banyak kelompok yang bersaing di PDIP. Di artikel sebelumnya, kami pernah menyebutkan bahwa sumber kami yang dekat dengan Partai membenarkan hal tersebut. Ada kelompok pendukung Puan yang dipimpin oleh Bambang Wuryanto. Bambang memang dikenal sebagai pendukung terbesar Puan. Puan, yang merupakan putri Megawati, adalah pendahulunya di Bappilu PDIP, yang merupakan badan yang sangat strategis di dalam sebuah partai politik yang memiliki kewenangan untuk merekomendasikan calon untuk dipilih kepada ketua umum.

Kelompok lain di PDIP adalah:

  • Kelompok pimpinan daerah dan mantan pimpinan daerah, termasuk Ganjar, yang dekat dengan Megawati. Presiden Joko “Jokowi” Widodo (mantan Walikota Surakarta dan Gubernur Jakarta), mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama a.k.a Ahok, mantan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dan Walikota Semarang Hendrar Prihadi juga termasuk dalam kelompok ini.
  • Kelompok GMNI juga dikenal sangat dekat dengan Megawati. Grup ini dipimpin oleh Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto.
  • Kelompok yang dikenal dekat dengan Taufik Kiemas, almarhum suami Megawati. Kelompok ini dipimpin oleh Pramono Anung (sekarang sekretaris kabinet). Kelompok tersebut dikabarkan dekat dengan Puan.
  • Kelompok yang dekat dengan putra Megawati, Muhammad Prananda Prabowo, yang dipimpin oleh Bambang DH.
  • Mereka yang dekat dengan pengusaha seperti Maruarar Sirait (yang dikenal dekat dengan Erick Thohir), Masinton Pasaribu (yang dikenal dekat dengan Tommy Winata), dan lainnya.

Dengan calon presiden dari PDIP dipertaruhkan, ketegangan di dalam PDIP bisa terus berkobar menjelang pemilu 2024, atau setidaknya sampai Megawati memutuskan siapa yang akan mendapat tiket dari Partai. Puan dan Jokowi saling berhadapan pada 2014. Puan dan pendukungnya dikabarkan tidak senang Jokowi mendapat nominasi presiden. Ketegangan antara Puan dan Jokowi memuncak setelah Pemilu Legislatif 2014 dengan media nasional memberitakan rumor bahwa Puan telah mengusir Jokowi dari rumah Megawati karena kecewa karena perolehan suara PDIP tidak setinggi yang diharapkan. Namun, baik Jokowi maupun Puan berusaha membantah rumor tersebut.

Secara matematis, PDIP bisa mengesahkan pasangan capres-cawapres sendiri pada pemilu 2024 tanpa harus berkoalisi dengan parpol lain. Padahal, PDIP adalah satu-satunya parpol yang bisa melakukan itu. PDIP, seperti diketahui, menguasai 128 dari 575 kursi di DPR atau sekitar 22,2 persen. PDIP telah melewati ambang batas kepresidenan saat ini.

Mereka yang menginginkan win-win solution bisa menyarankan Megawati untuk memasangkan Ganjar dengan Puan. Namun mengingat tahun 2024 akan menjadi pertarungan terbuka, kemungkinan besar akan menjadi pertarungan sengit. Akan lebih baik bagi PDIP untuk mempertahankan dukungan tambahan dari partai politik lain, terutama dari anggota kunci koalisi Jokowi. Dalam kaitan itu, posisi cawapres akan menjadi kartu tawar. Dalam skenario seperti itu, akan sulit untuk melihat Ganjar dan Puan bersama dalam satu tiket.

Cawapres Ganjar mungkin berasal dari partai politik lain atau didukung oleh partai politik lain dalam koalisinya. Kalaupun PDIP mendorong skenario sendiri, memasangkan Ganjar dengan Puan bukanlah ide yang bagus. Elektabilitas Puan tetap tidak signifikan dibandingkan dengan Ganjar seperti yang ditunjukkan oleh berbagai lembaga pemungutan suara.

Pendukung Puan dapat terus mencoba untuk mendapatkan restu Megawati dan menyabot Ganjar. Rumornya, mereka ingin menjodohkan Puan dengan Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra yang kini menjadi Menteri Pertahanan. Dalam skenario ini, Puan akan menjadi cawapres Prabowo.

Ganjar harus belajar dari keberhasilan Jokowi memenangkan restu Megawati. Jadi senang melihat Ganjar menjaga hubungan dekat dengan Megawati. Tapi Ganjar mungkin harus tetap rendah hati dan tidak terlalu agresif dalam bermanuver.

Kita semua tahu, keputusan akhir ada di tangan Megawati. Belajar dari tahun 2014, Megawati telah membuktikan bahwa dirinya memiliki akal sehat. Dia bisa membuat keputusan yang tepat. Dia memilih untuk mendukung Jokowi daripada putrinya sendiri. Hal yang sama bisa terjadi lagi pada 2024 dengan Megawati memutuskan untuk mendukung Ganjar daripada Puan.

Lagipula, untuk kepentingan Partai sendiri, penting bagi PDIP untuk meredam ketegangan antara Puan dan Ganjar dan menjaga agar Partai tetap bersatu. Ganjar juga memiliki pendukung di dalam PDIP. Ketua Badan Kehormatan PDIP Komaruddin Watubun, misalnya, membela Ganjar dari Bambang Wuryanto. PDIP harus mewaspadai bahwa konflik internal dapat memecah belah Partai dan mempengaruhi kinerja partai pada tahun 2024. Hal itu dapat merugikan mereka dalam pemilihan legislatif dan pemilihan presiden. (yosefardi.com)

Comment

News Feed