by

Covid-19: Gereja Thomas Rasul Jakarta Barat Sesat Pikir

-Opini-703 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Semakin besar ukuran fisik sebuah gereja tidak selalu mencerminkan karya pelayanan umat yang semakin berkembang, akibat dari semakin kerdilnya orientasi nurani para elit gereja (pastor, dewan paroki, pelayan umat basis).

Sesungguhnya, gereja dan para pimpinannya mengutamakan kebutuhan umat, apalagi umat yang merindukan kepenuhan pada Sakramen Perkawinan. Mengapa gereja tidak lagi menempatkan sakramen pernikahan sebagai bagian penting dan istimewa?

Pastor Paroki Santo Thomas Rasul (Sathora) Bojong Indah, Jakarta Barat, berikut jajaran dewan pengurusnya, mesti meninjau kembali aturan diskriminatif yang diterapkan bagi Misa Pernikahan, hanya mengijinkan maksimal 30 orang yang hadir. Apa lacur?

Saya dan istri hari ini mengalami sendiri, betapa kaum elit gereja di Paroki Santo Thomas Rasul Bojong Indah, Jakarta Barat memilih tak kompromi karena terlampau mendewa-dewakan aturan, melarang kami memasuki gereja untuk mendukung pernikahan suci adik kami.

Saya tegas mengatakan bahwa aturan itu, berikut informasi pendaftaran online kehadiran untuk pernikahan, tidak disosialisasikan oleh panitia pernikahan adik kami, kecuali undangan cetak. Saya coba mendesak dengan mengatakan jika kami datang dari tempat yang jauh (Depok). Tapi pengurus gereja (pasutri usia lanjut) tetap tidak bergeming. Adikku yang pengantin pria ikut memohon, tapi apa daya, keceriaan kami tetap terblok di pintu gereja.

Saya dan istri akhirnya hanya menyaksikan adikku dan calon istrinya melangkah masuk karena Pastor Ambrosius Lolong sudah siap menyambut mereka di altar. Saya berusaha lagi, tapi agak mencerca pengurus gereja yang adalah wanita usia lanjut. “Ibu, apakah kami boleh masuk karena jumlah umat yang ada hanya 21 orang…maksimal kan 30.” “Tetap aja pak tidak bisa, karena patokan kami pada undangan yang terdaftar online (dengan barkot),” timpalnya.

Saya berusaha tegar, dan menyembunyikan ekspresi layaknya seorang pengemis, meski hati sungguh kecewa. Tapi nalar saya berusaha menghibur. Bahwa, pengalaman pahit, pengalaman kecewa, bisa dialami di gereja. Yesus sendiri punya pengalaman yang sama dengan para ahli taurat dan kaum farisi.

Seorang petugas keamanan (security) di gereja ikut meneguhkan saya. Menurutnya, gereja paroki Thomas Rasul sudah melayani misa hari minggu dengan umat dibatasi 200 orang, sementara kapasitas gereja mencapai 500 orang. Saya heran, security pun ikut heran, apa lacur aturan hanya membatasi 30 orang untuk hadir misa pernikahan?

Nurani dan nalar saya kompak menuduh jika pastor paroki dan pengurus gereja Santo Thomas Rasul Bojong Indah, Jakarta Barat sungguh-sungguh tak manusiawi, dan menjadikan isu covid-19 sebagai pertimbangkan utama aturan pembatasan adalah sesat pikir.

Bayangkan, ruang gereja dengan kapasitas 2000 orang hanya membolehkan 30 orang menghadiri acara Misa Pernikahan. Apakah Sakramen Perkawinan tidak istimewa karena hanya dimiliki suami-istri? Pastor Ambrosius Lolong akan pergi belajar lagi ke Jerman, semoga bisa mendalami lagi spiritualitas Sakramen Perkawinan dari suku-suku Jermanik yang menduduki wilayah-wilayah kekuasaan Romawi itu.

Paroki Santo Thomas Rasul Bojong Indah, Jakarta Barat perlu mendefinisikan ulang visinya karena tak punya daya pikat lagi. Apakah misioner? Belum tentu. Sesat pikir lainnya, gereja Thomas Rasul melibatkan pengurus usia lanjut di acara pernikahan, padahal mereka itu kelompok sangat rentan terinfeksi virus corona. Di mana barisan OMK (orang muda Katolik)? Demikian kah gereja yang mandiri dan memiliki daya tahan hanya bertumpu pada pengurus gereja usia lanjut?

Comment

News Feed