by

1.019 Warga Belu Terinfeksi HIV/AIDS

DEPOK (eNBe Indonesia) – ATAMBUA, PK – CB Bethesda Yakkum Wilayah Belu menggelar pelatihan penguatan kapasitas bagi komunitas Warga Peduli AIDS (WPA) di Kabupaten Belu. Kegiatan yang diikuti 20 peserta itu dilaksanakan di Hotel Nusantara 2 Atambua selama dua hari (27-28 Mei 2021). Koordinator CD Bethesda Yakkum Wilayah Belu, Yosafat Ician kepada Pos Kupang menjelaskan, kegiatan ini sebagai upaya menyikapi dan merespon data komulatif HIV dan AIDS di NTT periode 1997-Maret 2021 yang masih menempatkan Kabupaten Belu pada urutan kedua setelah Kota Kupang. Berdasarkan sebaran wilayah di NTT, kasus HIV dan AIDS di Kabupaten Belu berjumlah 1.019 dengan rincian HIV 509 kasus dan AIDS 510 kasus. Kota Kupang menempati urutan pertama dengan 1.566 kasus HIV dan AIDS. Namun angka kematian Kabupaten Belu menempati urutan pertama di NTT dengan 250 kasus, sedangkan Kotga Kupang 68 kasus. Banyaknya kasus kematian ditengarai masih banyak ODHA belum mendapat akses ARB sehingga berakibat masuk ke stadium AIDS dan tidak tertolong. Kemudian, tingginya angka Lost to Follow Up (DO) pengobatan ARV (masyarakat kurang paham, akses kurang, efek samping, obat ARV, dan tingginya biaya pengobatan bagi ODHA yang tidak memiliki kartu layanan kesehatan); kurangnya tenaga pendamping dan penjangkauan serta masih tingginya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA di masyarakat. Oleh karena itu, lanjut Yosafat, pelatihan penguatan komunitas Warga Peduli AIDS (WPA) penting dilakukan untuk membantu pemerintah terutama pemerintah desa dan kelurahan dalam penanggulangan HIV dan AIDS. Peserta pelatihan berjumlah 20 orang yang terdiri dari Kelurahan Tulamalae 3 orang, Kelurahan Umanen 2 orang, Fatuketi 2 orang, Leosama 3 orang, Silawan 2 orang, Manleten 2 orang, Tukuneno 2 orang dan Bakustulama 1 orang. Menurut Yosafat, tujuan pelatihan, pertama’ memberikan pemahaman dan ketrampilan teknis kepada WPA tentang konsep, strategi dan pengorganisasian untuk advokasi hak-hak ODHA, kedua; mengidentifikasi tantangan dan kemajuan dihadapi oleh WPA dan strategi mengadvokasinya, ketiga; membangun organisasi peduli HIV dan AIDS yang terorganisir dan diakui masyarakat, keempat; membuat rencana tindak lanjut untuk implementasi pasca pelatihan. Kata Yosafat, melalui pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan WPA untuk ikut aktif memperjuangkan hak-hak ODHA terutama mendapatkan pelayanan memadai dan berkualitas dari pemerintah. Selain itu, mampu memetakan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh WPA dan berbagai pihak dalam menanggulangi HIV dan AIDS. Hal ini penting untuk membantu pemerintah menuju three zero 2030 yakni, tidak ada kematian karena AIDS, tidak ada kasus baru, tidak ada diskriminasi terhadap ODHA. Output dari kegiatan ini, peserta memahami konsep, strategi dan pengorganisasian untuk advokasi hak-hak ODHA, peserta memiliki ketrampilan teknis dalam memetakan potensi dan tantangan penanggulangan HIV dan AIDS dan strategi memperjuangkannya, terbentuknya Forum Warga Peduli AIDS da nada rencana tindak lanjut yang akan dilakukan pasca pelatihan. Menurut Yosafat, Fasilitator terdiri dari UPKM/CD Bethesda Yakkum Belu dan BP4D Kabupaten Belu. Sementara materi meliputi, Identifikasi kegiatan WPA hasi yang dicapai, tantangan dan solusinya, Fasilitator, Pengantar Advokasi Hak-Hak ODHA, pengantar strategi advokasi fasilitator, lobi dan jaringan fasilitator, mencermati kebijakan anggaran untuk penanggulangan HIV dan AIDS serta membangun organisasi peduli HIV dan AIDS Fasilitator. (Pos Kupang)

Comment

News Feed