by

Guru Agama Katolik Malas Berdoa (mengenang Stanislaus Siu)

-Profil-470 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Guru agama Katolik, seperti 12 murid/rasul Tuhan Yesus, adalah orang-orang terpilih dan setiap karya memberitakan Injil berikut memberi pengetahuan agama memperoleh tuntunan Kuasa Roh Kudus.

Namun guru agama Katolik banyak menghadapi tantangan duniawi, dan hanya sebagian yang tekun berdoa tetap bertahan, tetap menjadi panutan dan sumber ilham bagi kehidupan rohani umat.

Di tengah kehidupan moderen dengan teknologi mutakhir ini, Gereja Katolik tak henti berseru-seru agar umat manusia tetap rendah hati di hadapan Allah Sang Pencipta, mencintai alam dan segala isinya, juga mencintai satu-sama lain sebagai saudara.

Stanislaus Siu, seorang guru agama yang tinggal di Flores bagian tengah (Nagekeo), propinsi NTT, adalah satu potret guru agama yang patut dijadikan suri teladan, selain pihak Gereja harus menegaskan kembali peran guru agama dan spiritualitasnya.

Sudah jarang bahkan mungkin tak ada, sosok guru agama seperti Stanislaus Siu. Beliau penuh semangat mengajarkan agama, memberi renungan dan kotbah di kapela-kapela di parokinya, hidup bersahaja sebagai seorang Katolik yang baik, tekun berdoa.

Dan yang paling anyar guru agama ini mengajak orang lain berdoa jika bertemu di jalan setelah mereka berkesempatan ngobrol. Tentu ini pemandangan luar biasa bagi generasi moderen ini, tapi itu hal yang biasa dan rutin dilakukan Stanislaus Siu. Dia tanpa ragu berdoa di jalan bersama orang yang dijumpai meski hanya dengan ungkapan kata-kata sederhana.

Stanislaus Siu tegas mengajarkan hal berdoa. “Setiap kali berdoa, jangan meminta. Katakan, Tuhan aturlah bagi saya, mana yang dipandang baik!” ujar Stanislaus Siu kepada saya medio 1980 di rumah sederhananya di pinggir kali, lembah PAKU, Wolokoli, Mauponggo.

Tuhan sendiri menjawab doa-doa Stanislaus Siu, bersama istrinya, dengan banyak berkat dan rahmat. Stanislaus Siu dan istri diberi umur yang panjang, kesehatan, kehidupan yang damai/tentram, berikut dikarunia anak-anak dan cucu-cucu yang sukses.

Putra pertama mereka adalah seorang Pastor (Pater Levi Meme, SVD) saat ini berkarya di Filipina, putra yang lain berprofesi guru (Frans Posenti Betu) dan bankir (Yonas Yowe). Cucu-cucunya juga ada yang menjadi dosen di Jakarta (Gian Fransiskus), profesional investasi di Yogyakarta (Ovan Geovano).

Menariknya, meski anak-anaknya adalah orang sukses, Stanislaus Siu dan istrinya tetap memilih tinggal di gubuk sederhana di lembah PAKU. Dia hanya meminta dibuatkan Gua Maria untuk berdoa empat waktu (jam 6 pagi, jam 12 siang, jam 6 sore, dan jam 9 malam).

Stanislaus Siu juga menghadapi banyak hal duniawi, tapi baginya keikhlasan adalah kunci. Apapun masalahnya, Stanislaus Siu selalu mengatakan “Biarkanlah yang terjadi, terjadilah, karena itu yang dipandang baik oleh Allah Bapa”.

“Tahun 2019, terakhir kami bertemu. Nenek Bapa (Stanislaus-red) terus berpesan tentang pentingnya berdoa, dan harus diajarkan kepada sebanyak-banyaknya orang yang ditemui. Tugas yang sangat berat bagi kami anak cucunya. Namun hanya doa lah warisannya yang paling berharga, yang harus kami bagi kepada sesama. Sekarang, kakek kami sudah tenang, saya yakin dia akan selalu terus berdoa meski dari alam baka sekalipun. Semoga ketekunannya berdoa, menjadi contoh bagi kita semua yang tahu tentang kisah cintanya dengan Sang Pencipta,” tulis Gian Fransiskus di laman facebook.

“Grandpa Terimakasih???? Firman Tuhan adalah Sumber Kehidupan, Cinta Mu Begitu Besar pesan Yang Tidak pernah Terlupakan Ko’o Ata Be’o ko’o Ata, Ko’o Kita Be’o Ko’o kita, Ngara Fonga Ngede Ma’e Tola Ala. Mudi ma’e tola seru yewo banyak berkat terjadi lewat ucapan,” tulis Ovan Geovano di laman facebook.

“Tuhan telah mempersiapkan yang terbaik bagi hambanya yang setia. Hanya sedikit orang yang hidupnya sungguh total meneladani Kristus, Bapa adalah contoh bagi kita untuk hidup dijalanNya dalam kefanaan dan kesederhanaannya. Bahagia di Surga Bapa..,” tulis Kristianus Wua, tokoh muda gereja di Paroki Maukeli.

Stanislaus Siu telah berpulang pada Kamis (3/6) di usia jelang 93 tahun (Lahir 1928), meninggalkan istri tercinta, tiga putra, satu putri, dan cucu-cucunya. Stanislaus Siu adalah tokoh penting Gereja di Paroki Wolosambi medio 1940, dimana kala itu Kapela Wolokoli menjadi pusat stasi Maukeli.

Sejak 1933, kapela jadi tempat belajar agama, dibangun di kampung Tiwa, Kayo, Nagepada, Lokamude, dan Lajatiro. Pada 1055, kapela baru di Wolokoli dibangun karena kapela di Kayo tidak layak lagi. Pada 1963, kapela di Wolokoli dibangun baru oleh umat Wolokisa, Bela, dan Wuliwalo. Kapela ini memiliki 12 tiang bagian dalam sebagai simbol keduabelas Rasul Yesus.

Stanislaus Siu, sebagai guru agama, semenjak itu melayani umat di kampung Lajatiro, Ngina, dan Bayu, bersama Mateus Mere Wea, Mateus Mango, dan Hendrikus Kia. Sementara guru agama untuk kampung Kayo, Tiwa, Nagepada, Lokamude adalah Ignas Ika, Kornelis Djago, Wilhemus Wedho, Fransiskus Dua, Paulus Waja Babo, Moses Dia, Laurensius Baya, Wilhelmus Sawi, Ignas Raga, dan Stefanus Paja.

Stanislaus Siu dan guru agama di masa lalu semoga tetap menjadi inspirasi bagi guru agama masa kini yang kurang bahkan malas berdoa. Spiritualitas adalah praktik dan permenungan sistematis atas hidup kristiani yang ditandai oleh doa. Di dalamnya pembimbing rohani dengan terang Roh Kudus membantu untuk menjernihkan arah ke mana pribadi-pribadi atau komunitas melangkah (bdk. 1 Tes 5:19-22; 1 Yoh 4:1). (hans obor)

Selamat jalan bapak tercinta STANISLAUS SIU…RIP

Comment

News Feed