by

Optimisme APBN 2022

-Ekonomi-23 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Selasa (8 Juni) menyetujui indikator ekonomi yang ditetapkan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2022, diusulkan Pemerintah. Pertumbuhan ekonomi ditetapkan pada kisaran 5,2-5,8% year-on-year (y/y) untuk tahun 2022, inflasi sebesar 2-4% (y/y), suku bunga (government note/SUN) tenor 10 tahun sebesar 6,32-7,27%, dan nilai tukar rupiah rata-rata Rp13.900-15.000 per dolar AS.

Harga minyak mentah dipatok di kisaran US$55-65 per barel. Dan lifting minyak ditetapkan pada kisaran 686.000-726.000 barel per hari (bph), sedangkan lifting gas bumi ditetapkan antara 1.031 juta-1.103 juta barel setara minyak per hari (boepd).

Defisit anggaran ditetapkan minus 2,31% (Rp414,1 triliun) hingga 2,65% (Rp480,5 triliun) terhadap PDB—pada tahun 2021 defisit anggaran ditetapkan sebesar Rp633,12 triliun. Rasio utang ditetapkan pada kisaran 43,76% hingga 44,28% dari PDB. Penerimaan negara ditargetkan tumbuh pada kisaran 10,18% hingga 10,44% terhadap PDB, dari Rp1.823,5 triliun menjadi Rp1.895,4 triliun. Belanja negara ditetapkan antara 14,69% (Rp2.631,8 triliun) hingga 15,29% (Rp2.775,3 triliun) terhadap PDB. Pengangguran ditetapkan menurun antara 5,5% sampai 6,2%, dan tingkat kemiskinan di kisaran 8,5% sampai 9,0%. Rasio Gini ditetapkan antara 0,376 hingga 0,378, sedangkan indeks pembangunan manusia ditetapkan antara 73,44 hingga 73,48.

Pertumbuhan ekonomi pada 2022 akan ditopang oleh pemulihan konsumsi rumah tangga, investasi, dan perdagangan internasional yang terakselerasi setelah pandemi COVID-19 terkendali. Penjualan ritel tumbuh 9,8% y/y pada Maret 2021 setelah mengalami kontraksi 2,7% (bulan ke bulan) pada Februari 2021.

Tren penjualan ritel saat ini diperkirakan akan bertahan. Pada April 2021 penjualan ritel tumbuh 11,4% (month-to-month) seiring dengan meningkatnya daya beli masyarakat selama Ramadhan, kondisi musim dan cuaca yang menguntungkan, dan banyaknya program diskon.

Manufaktur Indonesia membaik pada Mei 2021, di tengah membaiknya situasi COVID-19 lokal dan percepatan permintaan selama liburan Idul Fitri. Ke depan, sentimen tetap optimis. Penjualan mobil nasional melonjak 228% seiring dengan penerapan potongan pajak. Belanja nasional melonjak 60,43%.

Di bidang perdagangan, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar US$2,19 miliar pada April 2021, bergeser dari defisit US$0,37 miliar pada bulan yang sama tahun sebelumnya. Ini adalah surplus perdagangan bulan kedua belas berturut-turut dan angka terbesar sejak November lalu, di tengah peningkatan ekspor lebih lanjut karena permintaan global membaik. Ekspor melonjak 51,94% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi US$18,48 miliar, dan impor melonjak 29,93% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi US$16,29 miliar, kenaikan tiga bulan berturut-turut. Untuk empat bulan pertama tahun ini, perdagangan mencatat surplus sebesar US$7,72 miliar, karena ekspor naik 24,96% sementara impor naik dengan penurunan 15,40%.

Investasi tumbuh 4,3% pada kuartal I (Q1) tahun 2021 mencapai Rp219,7 triliun, meningkat dari 2,4% pada kuartal sebelumnya. Investasi tersebut berkontribusi 25,5% terhadap target nasional sebesar Rp900 triliun tahun ini. Investasi di luar Jawa naik 11,7%. Presiden Joko “Jokowi” Widodo mendesak Kementerian Investasi untuk meningkatkan investasi menjadi Rp1.100-1.200 triliun pada tahun 2022 untuk mendukung pertumbuhan ekonomi 5%. Saat ini, investasi berkontribusi 30% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, sedangkan konsumsi rumah tangga berkontribusi 57%.

Kementerian Koordinator Perekonomian juga optimis. Ia memperkirakan ekonomi nasional tumbuh 6,3% hingga 7% pada kuartal kedua (Q2) tahun 2021, dibandingkan dengan kontraksi 5,32% pada Q2 tahun 2020. Insentif fiskal diharapkan dapat mendorong sisi pengeluaran. Pemerintah juga memiliki anggaran untuk program pemulihan ekonomi. Per 11 Mei 2021, pencairan anggaran tersebut mencapai Rp172,35 triliun atau 24% dari anggaran tahun ini sebesar Rp699,43 triliun. Jumlah tersebut meningkat Rp49 triliun dari Q1 tahun 2021 (Rp123,26 triliun).

Comment

News Feed