by

Film Animasi “Nussa Rara” Dituding Taliban, Istri AHY Bela Angga Sasongko

JAKARTA (eNBe Indonesia) — Penggiat media sosial Eko Kuntadhi melemparkan bola api ke sutradara muda Angga Dwimas Sasongko, menyebut bahwa film animasi “Nussa Rara” yang digarap Ryan Adriandhy bersama Visinema Pictures itu sebagai film bernuansa Taliban.

Dalam sebuah komentar yang diunggah di media sosial Twitter, Eko mengatakan bahwa pilihan busana Angga Sasongko dalam film animasi tersebut keliru.

Menurut Eko, pakaian yang dikenakan dua tokoh utama dalam film itu, yaitu Nussa dan Rara, bukan representasi pakaian orang asli Indonesia, melainkan pakaian khas kelompok Taliban.

“Apakah ini foto anak Indonesia? Bukan. Pakaian lelaki sangat khas Taliban. Anak Afganistan,” tulis Eko, Sabtu (19/6).

Baca juga: Jenderal Moeldoko vs Mayor AHY

Taliban adalah kelompok radikal Islam di Afghanistan, sebuah negara Islam dengan tingkat perang saudara paling parah di Timur Tengah, selain Suriah.

Kelompok Taliban menguasai wilayah Afghanistan sejak tahun 1996-2001 setelah menumbangkan rezim pemerintahan Mujahiddin yang didukung oleh Amerika Serikat (AS).

Kelompok ini memang keras dan ekstrem. Namun kemudian dihancurkan AS karena diduga melindungi Osama bin Laden, pemimpin Al-Qaeda, pasca peristiwa serangan 11 September 2001 ke Gedung World Trade Center (WTC) di AS.

Adapun film “Nussa Rara” akan mewakili Indonesia dan debut dalam ajang Buncheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) Juli mendatang.

Eko menuding bahwa Angga Sasongko dan film “Nussa Rara” sedang mempromosikan kepada dunia bahwa Indonesia mendukung khilafah, ideologi yang juga diperjuangkan Taliban.

“[…] Film ‘Nusa Rara’ mau dipromosikan ke seluruh dunia. Agar dunia mengira, Indonesia adalah cabang khilafah. Atau bagian dari kekuasaan Taliban. Promosi yg merusak!” tandas Eko.

Baca juga: Polling: Ganjar terpopuler, AHY terkecil

Pembelaan Annisa Pohan

Menanggapi cuitan Eko, istri Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, Annisa Pohan, angkat bicara.

Annisa melihat ada keanehan dalam komentar salah satu pembicara di Cokro TV besutan Ade Armando tersebut.

Menurut Annisa, komentar sinis yang disampaikan Eko merupakan bentuk “islamophobia”. Anehnya, ketakutan terhadap Islam, kata Annisa, justru lahir dari orang-orang Islam itu sendiri.

“Kenapa ya buzzer-buzzer itu islamophobia padahal dirinya juga Islam. Film animasi berprestasi untuk anak-anak bernuansa Islam dengan nilai-nilai positif aja jadi masalah untuk mereka.¬†Hidupnya penuh kecurigaan tak beralasan. Sangat negatif,” ujar Annisa seperti dilihat pada Selasa (22/6).

Baca juga: AHY & Kritik Jokowi

Tanggapan Angga Sasongko

Angga Sasongko bukannya hanya diam menanggapi komentar Eko yang sempat trending di Twiiter tersebut.

Angga menghargai perbedaan pendapat, tapi tidak suka bila ruang publik dipakai untuk bermain politik identitas.

“Saya org yg terbuka dan respect dengan sikap berseberangan, saling tidak sepakat dan berbeda pendapat. That’s the beauty of democracy. Yang saya benci adalah ketika ruang itu terbuka, tapi menolak dipakai untuk diskusi, lalu terus menerus mempolarisasi dan bermain politik identitas,” tandas Angga Sasongko.

Dia mengaku pernah mengundang Eko untuk menonton film animasi tersebut. Namun Eko tak kunjung datang.

“Ah elo ayam sayur, Eko. Diajak nonton dan diskusi langsung sama gue, gak nongol idung lo. Mengkonfirmasi untuk tidak datang. Ayam sayur kayak lo cuma berani sembunyi di balik jempol. Gak cukup punya nyali dan intelektualitas buat berdebat. Bisanya cuma datang isu identitas pake jempol,” ucap Angga.

Angga pun menuding trendingnya cuitan Eko mengenai isu Taliban di film “Nussa Rara” karena dibayar mahal.

Animator film “Nussa Rara”, Ryan Adriandhy Halim disebutkan juga sempat mengundang Eko untuk menonton film tersebut di kawasan Jakarta Selatan.

“Gratis, kursi enak, supaya melihat produk dulu sebelum menuduh, lihat ceritanya, kualitas animasinya. Mau diajak diskusi santai sama kreator, enggak mau, maunya lanjut ngebacot,” katanya.

Dari situs BIFAN, film”Nussa Rara” menceritakan tentang Nussa yang ingin mengesankan ayahnya yang akan pulang setelah setahun di luar negeri.

Nussa adalah anak yang cerdas dan berusia 9 tahun. Ketika ada kabar ada diadakan kompetisi sains sekolahnya, Nussa cepat-cepat mendaftarnya.

Sayangnya, ayahnya membatalkan kepulangannya ke tanah air. Dia pun tidak bisa mengikuti kompetisi tersebut.

Akhirnya, Jonni, seorang siswa baru yang cerdas dengan cepat menjadi saingannya dalam kompetisi sains sekolah.

Dari peristiwa itu, Nussa belajar arti rasa syukur dalam hidupnya.*

Penulis: Denis Deha

Comment

News Feed