by

Mokblek Caffe di Maumere: Obati Kerinduan Kopi Khas Kampung

MAUMERE (eNBe Indonesia) — Di tengah menggeliatnya brand-brand kopi modern dengan aneka rasa dan model kemasan, kerinduan masyarakat untuk menikmati kopi hitam khas kampung di kafe-kafe tak pernah purna.

Di Maumere, Kabupaten Sikka, Mokblek Caffe menyajikan kopi hitam gaya kampung yang didukung dengan desain kafe tradisional dalam nuansa kekeluargaan.

Mokblek Caffe terletak di Bolawolon, Desa Watumilok,Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka.

Baca juga: Akunitas Kembangkan “Loka Pasar” untuk Promosi 378 Pelaku UMKM di Labuan Bajo

Elisia Digma Dari, biasa disapa Elis, pendiri dan pemilik Mokblek Caffe mengatakan bahwa motivasi utamanya dalam membangun bisnisnya adalah memperkenalkan kembali tradisi orang-orang tua pada zaman dahulu yang biasanya minum kopi hitam dari wadah yang dikenal dengan istilah “mok blek”.

Mok blek adalah wadah berupa gelas yang dibuat menggunakan bahan seng. Konon, wadah ini sekarang sudah jarang ditemukan di rumah-rumah masyarakat.

Baca juga: Lama Tak Muncul, Azizah KDI 2015 Dikabarkan Sudah Menikah

Elis menuturkan, dengan minum kopi dari mok blek, membangkitkan kembali memori masa silam yang dilakukan orang-orang zaman dahulu di Flores, dan NTT pada umumnya.

Sebagai pecinta kopi, Elis yang juga aktivis pariwisata dan ekonomi kreatif di Kabupaten Sikka ini ingin agar kopi hitam selalu dikenang bukan saja oleh generasi tua tetapi juga oleh generasi milenial.

Hal itu digagasnya agar mereka tahu bahwa pada zaman dahulu dikampung-kampung orang melakukan kebiasaan ini yakni minum kopi hitam sambil bercerita tentang kehidupan.

Baca juga: Begini Pengakuan Pelaku Pembunuh Kepsek SDI Ndora, Nagekeo

Selain kopi hitam, di Mokblek Caffe tersaji penganan-penganan lokal semisal ubi rebus, kacang rebus dan sebagainya yang dapat dinikmati bersama kopi hitam.

Mokblek Caffe didesain dengan gaya tradisional sehingga sangat cocok buat kamu yang ingin meyeruput kopi dalam kesendirian, keheningan. Atau bersama pasangan. Suasana romantis sangat terasa.

Bangunan dan tenda tempat nongkrong dibuat dari bambu dan kayu. Nuansa klasik sangat terasa apabila kita berada di Mokblek Caffe. Rasanya seperti rumah sendiri.

“Disini, siapa saja tidak segan-segan untuk datang. Dari orang berdasi sampai yang tak beralas kaki, dari kebun-kebun dan kantor-kantor pun merasa nyaman dengan tempat ini. Kopi sangat murah seharga Rp5.000 per mok dan pengunjung menyeduhnya sendiri sesuai selera,” cerita Elis.

Baca juga: Pemerintah Pusat Fasilitasi Ekspor Kopi Bajawa ke Malaysia

Tidak hanya menyajikan kopi ala kampung, Moblek Caffe juga menjual aneka sayuran titipan warga sekitar. Sayur-sayur tersebut ditaruh di atas sebuah meja.

Elis juga membantu penjual sayuran dengan momostingnya di media-media sosial, semisal Facebook, Instagram, atau WhatssApp, agar dibeli oleh konsumen secara online.

Dia mengatakan, hal itu dia lakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap warga sekitar, antara lain dengan berbagi kasih dari apa yang kita bisa dilakukan untuk sesama.

Karena itulah, Mokblek Caffe hampir tak pernah sepi. Selalu ada kerinduan orang untuk pulang kembali ke gubuk sederhana di timur kota Maumere itu.*

Penulis: Dan Dede

Comment

News Feed