by

Agar menuju sukses cuma satu, yakni jauhi FACEBOOK

-Opini-257 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Emilianus Yakob Sese Tolo (EYST), intelektual muda NTT juga dosen STFT Ledalero Maumere, akhirnya mengakui kesalahannya, pernah menulis status negatif terhadap Facebook, platform media sosial yang terus populer bagi netizen NTT hingga kini.

Pada 6 Juni 2021 lalu Facebook mengirim notifikasi untuk EYST, bahwa tepat di tanggal yang sama pada 10 tahun lalu (6 Juni 2011) EYST menulis status di Facebook demikian “Agar menuju sukses cuma satu, yakni jauhi FACEBOOK”.

Notifikasi dari Facebook ini kemudian menginspirasi EYST untuk tampil membela diri berikut memberi pencerahan kepada publik Indonesia melalui platform youtube Emil Tolo. EYST saat ini juga seorang youtuber populer dengan jumlah subscriber hampir 6,000, padahal dia baru memulai channel youtubenya pada Juni 21, 2020.

EYST sudah memproduksi 149 video, fokus pada konten-konten intelektual, dengan video terpopuler bertemakan “Bagaimana Karakter Orang Jawa? Ini Jawaban Menurut Orang Flores, Indonesia Timur”. Video ini telah ditonton sebanyak 174.939 kali sejak tayang pada 18 Oktober 2020.

Video populer lainnya bertema ‘Peneliti Norwegia Membantah A Bakri HM. NTT Itu Istimewa Karena Indah dan Unik (Part 1)’ (26.000 kali ditonton), ‘Perempuan Flores Kuliah S1 di Jerman Tanpa Beasiswa – Dia Berasal Dari Keluarga Sederhana di Maumere’ (23.000 kali ditonton), dan ‘Video Bencana Alam di NTT 2021 Dari Berbagai Pulau – Pray and Donate For NTT’ (12.000 kali ditonton).

Kembali ke notifikasi Facebook, EYST hari ini membuat konten youtube dengan tema ‘Manfaat dan Kerugian Bermain Facebook’. EYST jujur menegaskan jika Facebook memberi kontribusi untuknya selama 10 tahun terakhir, meski Facebook juga memberi banyak dampak negatif bagi netizen Indonesia.

“Berdasarkan pengalaman saya, sebenarnya Facebook memiliki wajah yang ambivalen. Di satu sisi Facebook memberi manfaat tapi di sisi lain Facebook membawa hal-hal negatif,” tutur EYST.

EYST mengakui cukup banyak hal positif yang didapat dari Facebook seperti, mendapat peluang beasiswa Australia Awards tahun 2018 (Ada informasi ini di Facebook), mendapat banyak teman (bantuan, informasi baru), dan belajar menulis (melalui polemik) termasuk menulis cerpen (Gadis Norwegia paling viral).

EYST awal mengenal Facebook di tahun 2011 dan tanpa melakukan survei berani menulis status seperti di judul berita ini. Dia pun menyampaikan latar belakang yang mendorongnya menulis status sangat mengganggu ini.

Menurutnya, Facebook tidak bermanfaat karena beberapa alasan seperti, mengkorupsi banyak sekali waktu netizen sehingga netizen tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan produktif maka tidak bisa sukses. Kedua, terlalu banyak informasi (surplus) maka tidak bisa diproses dengan baik di kepala oleh netizen terutama memilah mana yang positif dan negatif. Ketiga, Facebook memberi ruang bagi netizen untuk saling menghina dan menghujat.

“Facebook adalah rimba raya yang sangat berbahaya untuk orang yang tidak bisa menguasai diri atau untuk orang yang tidak siap untuk berhadapan dengan netizen Indonesia yang kadang-kadang sangat brutal dan barbar,” pungkas EYST.

Comment

News Feed